Program penelitian kerjasama dengan PT. PLN (persero) dalam upaya untuk percepatan elektrifikasi wilayah 3T.
Kebutuhan Kritis
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkomitmen untuk mempercepat permasalahan elektrifikasi di wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal). Salah satu kebijakan strategis yang ditempuh adalah dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT). Untuk daerah yang dekat dengan jaringan listrik milik PLN, pendekatan yang dilakukan adalah ekspansi grid dengan menarik jaringan yang sudah ada. Bagi daerah yang penduduknya terpusat dan jauh dari jaringan listrik PLN, pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengembangkan off-grid berdasarkan potensi yang ada, misalnya hidro atau biomassa. Pra-elektrifikasi digunakan untuk daerah yang penduduknya tersebar dan butuh biaya besar untuk pemasangan jaringan. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan memasang alat penyalur daya listrik (APDL) mandiri untuk setiap rumah. Indonesia adalah negara kepulauan yang dipersatukan oleh wilayah lautan dengan luas seluruhnya mencapai 8 juta km2, mempunyai panjang garis pantai 81.000 km, dan hampir 40 juta orang penduduk tinggal di kawasan pesisir. Air laut bisa menjadi sumber alternatif yang dapat menghasilkan listrik hijau dengan harga murah. Air laut mengandung sodium khlorida (NaCl), yang kaya dengan ion yang dapat digunakan sebagai elektrolit dalam baterai logam-udara untuk membangkitkan listrik. Baterai logam-udara menggunakan oksigen dari udara sebagai katoda dan logam sebagai anoda. Baterai jenis ini menjanjikan sebagai APDL untuk daerah 3T karena, selain menggunakan air laut alam sebagai elektrolit, baterai ini juga menggunakan oksigen dari udara sebagai salah satu reaktan utama baterai. Selain itu, baterai logam-udara dapat diisi ulang secara mekanik, atau dengan kata lain, anoda logam baterai berfungsi sebagai bahan bakar yang dapat diganti ketika habis. Mirip dengan bensin pada mobil yang harus diisi di pom bensin ketika habis.
Inovasi Proyek dan Keunggulan
Departemen Teknik Kimia ITS sedang mengembangkan kelas baru baterai logam-udara menggunakan air laut sebagai elektrolitnya, atau sering dirujuk sebagai baterai air laut. Baterai air laut menjanjikan untuk generasi masa depan APDL untuk elektrifikasi daerah 3T terutama yang berada di wilayah pesisir atau pulau-pulau kecil yang terisolasi laut. Hal ini karena baterai menggunakan air laut alam sebagai elektrolit dan oksigen dari udara sebagai reaktan utama baterai. Teknologi yang dikembangkan ITS menggunakan aluminium sebagai logam aktif dalam baterai karena logam ini tersedia dalam jumlah yang melimpah di dalam negeri yang dapat meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam proses produksinya. Baterai aluminium-air laut, yang selanjutnya disebut BAlaut, harganya murah dan sangat aman karena menggunakan elektrolit air yang tidak mudah terurai dan terbakar, menyimpan lebih banyak energi, dan dapat diisi ulang secara mekanik (nantinya akan dikembangkan juga yang dapat diisi ulang dengan listrik).
Manfaat dan Dampak
Keamanan
Karena baterai BAlaut tidak menggunakan elektrolit organik tetapi air laut, baterai ini bisa dikatakan sangat aman karena terbebas dari kemungkinan kebakaran dan meledak ketika terjadi hubungan pendek dalam baterai. Selain itu, pemakaian baterai BAlaut secara luas akan membantu mengurangi ketergantungan Indonesia kepada teknologi asing dan bahan impor dalam mewujudkan elektrifikasi wilayah 3T.
Lingkungan
Pemakaian teknologi baterai BAlaut akan mengurangi emisi gas rumah kaca karena tidak menggunakan bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik sehingga dapat mempercepat transisi menuju ke arah energi bersih dan ramah lingkungan.
Ekonomi
Proyek ini akan memungkinkan penyediaan listrik bagi penduduk di wilayah 3T dengan biaya lebih murah, memanfaatkan sumber daya setempat, dan menggunakan teknologi ramah lingkungan dan yang diciptakan oleh anak bangsa sendiri.


Leave a comment