Pengembangan baterai Al-udara untuk kendaraan listrik

Program penelitian kerjasama dengan PT. Pertamina (Persero) untuk mempercepat pemakaian kendaraan listrik agar Indonesia mandiri teknologi.

Kebutuhan Kritis

Sebagian besar kendaraan listrik saat ini digerakkan oleh baterai litium-ion (Li-ion) – jenis baterai yang sama yang digunakan pada telepon genggam dan komputer laptop. Saat ini, sebagian besar baterai Li-ion yang dipakai pada kendaraan listrik mempunyai densitas energi tertinggi 300 Wh/kg yang menyediakan jarak tempuh terbatas pada 370 km pada sekali isi dan menyumbang 30-40% harga total kendaraan. Untuk bersaing dalam pasar kendaraan berbasis bensin dan solar, kendaraan listrik harganya harus lebih murah dan menempuh jarak lebih jauh. Kendaraan listrik yang harganya bersaing dengan kendaraan bensin dan solar akan membutuhkan baterai dengan penyimpanan energi dua kali baterai Li-ion saat ini dengan harga lebih murah 30%.

Inovasi Proyek dan Keunggulan

Kelas baru baterai logam-udara menjanjikan untuk generasi masa depan kendaraan listrik karena baterai menggunakan oksigen dari udara sebagai salah satu reaktan utama baterai, mengurangi berat baterai dan membebaskan lebih banyak ruang yang diperuntukkan bagi penyimpan energi daripada baterai Li-ion. Teknologi yang akan dikembangkan menggunakan aluminium sebagai bahan aktif logam dalam baterai karena logam ini lebih banyak dan lebih murah daripada litium yang diimpor. Baterai logam-udara telah lama dipandang tidak dapat dipakai untuk aplikasi kendaraan listrik karena elektrolit yang berbasis air di dalamnya akan menguraikan interior baterai hanya setelah beberapa pemakaian. Untuk mengatasi batasan tradisional ini, sistem baterai baru yang akan dikembangkan dapat lebih murah dan aman daripada baterai Li-ion saat ini dan menyimpan lebih banyak energi.

Manfaat dan Dampak

Jika berhasil, proyek akan meningkatkan keamanan dan jarak tempuh kendaraan listrik sambil menurunkan harga.

Keamanan

Pemakaian kendaraan listrik secara luas akan membantu mengurangi ketergantungan Indonesia kepada minyak asing. Sektor transportasi Indonesia adalah sumber dominan ketergantungan ini.

Lingkungan

Pemakaian kendaraan listrik akan mengurangi emisi gas rumah kaca, 28% darinya berasal dari sektor transportasi.

Ekonomi

Proyek ini akan memungkinkan kendaraan listrik menempuh perjalanan dengan biaya lebih murah.

Konsep Baterai Al-udara