PT. Petrokimia Kayaku adalah perusahaan yang bergerak di sektor agrokimia yang menghasilkan produk utama berupa pestisida, pupuk hayati, probiotik ternak dan sejumlah produk lain. Produk-produknya telah diakui sesuai Standar Internasional FAO – specified for plant protection products – sehingga memenuhi standar keamanan bagi tanaman pertanian. Sampai saat ini sebagian besar bahan baku utama untuk memproduksi pestisida masih diperoleh dari impor yang mengakibatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) rendah. Dalam rangka menguatkan struktur industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan produk impor, Pemerintah menargetkan nilai TKDN rata-rata mencapai sebesar 43,3% pada tahun 2020 dan naik menjadi 50% pada tahun 2024 sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) 2020-2024. Mempertimbangkan hal itu, PT. Petrokimia Kayaku berupaya untuk meningkatkan TKDN dalam proses produksinya agar paling tidak mencapai 40%. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penggantian beberapa bahan baku impor, salah satunya adalah cocamidopropyl amine betaine (CAPB), dengan memproduksinya menggunakan bahan baku yang tersedia dalam negeri.
CAPB adalah surfaktan amfoterik dan dikenal dengan beberapa nama dagang, antara lain: Crodateric CAB 30, Dehyton K, Genagen CAB, TEGO Betain, Chembetaine, OXITAINE CP 30, dan lain-lain. Surfaktan ini secara luas dipakai dalam berbagai jenis kosmetik seperti sampo, produk mandi dan agen pembersih. Peningkatan pemakaian CAPB dalam produk perawatan tubuh dan detergen diperkirakan akan mendorong pasar surfaktan ini ke depannya.

Pabrik yang akan dibangun menggunakan teknologi proses yang dikembangkan oleh Departemen Teknik Kimia ITS. Produk CAPB dengan proses tersebut telah diuji oleh PT. Petrokimia Kayaku dan dinyatakan memenuhi standar mutu sebagai bahan baku untuk pestisida yang mereka produksi. Desain dan kelayakan ekonomi pabrik CAPB telah dipaparkan di depan jajaran Direksi dan staf PT. Petrokimia Kayaku hari Selasa, 17 Oktober 2023. Dari pertemuan tersebut disepakati bahwa desain yang dibuat oleh ITS, dengan bahan baku minyak kelapa, dinyatakan layak secara teknis dan ekonomis dan direncanakan akan mulai dibangun tahun depan. Beberapa modifikasi rancangan dan operasi juga dibahas dalam pertemuan tersebut agar nantinya pabrik dapat dioperasikan dengan aman dan efisien.
Pabrik yang akan dibangun ini selain meningkatkan TKDN juga dapat menghemat biaya pembelian bahan baku impor sekitar 1,5 milyar rupiah per tahun.
(hs)


Leave a comment