Inovasi Teknologi Partikel untuk Menciptakan Produk yang Bermanfaat

 

Oleh: Heru Setyawan
Disampaikan pada orasi ilmiah pengukuhan guru besar pada tanggal 20 Januari 2010 di Grha Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya.

Teknologi Partikel Dalam Kehidupan

Barangkali tanpa kita sadari setiap hari kita berhubungan dengan produk-produk yang berupa partikel atau powder. Ibu-ibu dan para remaja putri tidak akan merasa cantik tanpa memakai kosmetik seperti bedak, lipstick dan pelembab. Produk kosmetik seperti itu melibatkan bahan partikulat atau emulsi yang membutuhkan kontrol dan pengukuran distribusi ukuran partikel. Dengan pengontrolan yang baik, foundation mampu menutup secara penuh kulit muka sedangkan bedak membantu fungsi foundation dengan memberikan penampakan khusus tambahan dengan memantulkan cahaya dalam warna-warna yang mejadikan kulit tampak cerah atau mendifusikan cahaya secara merata pada permukaan kulit. Selain meningkatkan penampakan, bedak muka juga dapat memberikan perlindungan terhadap sinar matahari dengan memasukkan komponen pemendar cahaya yang kuat seperti zinc oksida. Distribusi ukuran partikel komponen tersebut mempengaruhi penampakan, stabilitas dan perlindungan terhadap sinar matahari.

Gambar 0. Partikel dalam kehidupan.

Teknologi partikel telah berumur setua manusia. Sejak adanya pertanian, manusia telah memanen dan menyelep biji-bijian, menumbuknya menjadi tepung, menyeduhnya menjadi minuman dan memanggangnya menjadi roti. Pemakaian mineral di industri telah mulai sejak jaman batu dan perunggu dimana mineral digunakan dalam bentuk partikulat untuk menciptakan keramik dan memurnikan logam. Jaman pertengahan melihat munculnya industri farmasi dimana ramuan ditumbuk dan dicampur untuk penyembuhan penyakit. Sebagaimana halnya dengan teknologi lain, revolusi industri melahirkan ledakan kemajuan yang pesat dalam partikel, dari teknik penambangan maju sampai abrasif, alat potong, dan produksi masal produk kimia dan pertanian. Kemajuan ilmiah modern dalam cat dan pelapisan disandarkan sebagian besar pada kemampuan mengontrol dispersi dan perilaku pigment dan partikel lain dalam berbagai macam pelarut dasar. Bahan komposit muncul, bertepatan dengan munculnya industri polimer dan plastik, industri yang juga sangat bergantung pada katalis partikulat.

Saat ini, teknologi partikel berada pada titik kebangkitan barunya ketika potensi teknologi nano mulai terwujud. Perancangan dan manipulasi bahan pada skala nano dengan sifat alamiahnya melibatkan partikel sangat halus atau permukaan yang memiliki banyak atribut yang sama seperti sistem particulat. Sifat bahan tersebut dimanipulasi pada skala nano dan partikel tersusun dengan sendirinya kedalam struktur nano menghasilkan kristal fotonik, katalis skala nano, permukaan superhidrofobik, debu cerdas dan bahkan “mesin skala nano”. Partikel sedang menapaki kemajuan khusus dibidang perawatan kesehatan manusia dimana mereka digunakan untuk mendiagnosa penyakit, menyembuhkan kanker, memberikan obat dan menghambat ketuaan. Sains partikel sedang dikenali sebagai teknologi yang memungkinkan untuk membantu kita menciptakan sumber energi baru, membersihkan udara dan air, dan membangun bahan yang lebih kuat dan lebih ringan. Teknologi partikel bukan pada akhir pengembangannya, potensinya baru saja mulai.

Peran penting teknologi partikel sering terlewatkan dalam masyarakat. Pemurnian air, pengolahan limbah, udara bersih, pengawetan makanan, dan sejumlah besar produk industri semuanya merupakan hasil dari pemahaman yang sangat canggih tentang teknologi partikel. Sebagai contoh, air minum bersih membutuhkan filtrasi melalui unggun partikel, pemberian bahan kimia, dan pengolahan akhir dengan berbagai macam adsorbent seperti karbon aktif. Pengetahuan teknologi partikel bisa digunakan dalam industri minyak untuk merancang reaktor perengkahan katalitik yang menghasilkan bensin dari minyak bumi atau dapat digunakan dalam ilmu forensik untuk mengkaitkan terdakwa dengan tempat terjadinya perkara. Pengabaian teknologi partikel bisa mengakibatkan kerugian produksi, kualitas produk yang jelek, resiko terhadap kesehatan, ledakan debu atau ambruknya silo penyimpan.

Aktivitas Teknologi Partikel

Teknologi partikel dengan sifat alamiahnya berasal dari berbagai sumber keilmuan. Tidak ada seorangpun dari disiplin ilmu tertentu dapat mengklaim teknologi partikel sebagai bidang keilmuannya sendiri. Pemahaman fisika, kimia, rekayasa bahan, mesin dan banyak disiplin ilmu lain diperlukan untuk memahami dan mengontrol perilaku sistem partikel. Sebagai akibatnya, bidang ini sangat interdisipliner dengan ilmuwan semua tipe bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan masalah kompleks. Sebagai contoh, nanopartikel yang bersifat magnet seperti magnetite dapat digunakan untuk terapi hyperthemia untuk penyembuhan kanker. Ilmuwan partikel, kimia, fisika, biologi molekuler, kedokteran, teknik kimia dan ilmuwan dari disiplin ilmu lain semuanya bekerja bersama-sama untuk merancang terapi tersebut dalam lingkungan fisiologi yang sangat kompleks.

Meskipun merupakan ilmu yang sangat interdisipliner, teknologi partikel telah muncul sebagai disiplin ilmu terpisah dengan karakteristik dan paradigma yang khas dalam menggambarkan, memodelkan dan mengendalikan fenomena yang melibatkan berbagai macam benda diskret (mis.: partikel padat yang meliputi nanopartikel, tetesan fluida dan gelembung udara) dan interaksinya dengan media (udara, air atau pelarut) pada medan gaya yang berbeda (shear, kompresi, aliran, magnet, dll.). Secara umum, partikel dapat didefinisikan sebagai besaran diskret kecil yang memiliki antarmuka dengan lingkungan disekitarnya, yang bisa berupa bahan padat dalam gas atau cairan, tetesan cairan dalam udara, gelembung dalam air atau emulsi. Tidak ada aturan yang mengatur seberapa besar suatu benda dikatakan partikel. Tetapi yang paling sering, benda yang didefinisikan sebagai partikel dalam teknologi partikel ukurannya berkisar dari satu nanometer sampai beberapa milimeter.

Melihat pentingnya bidang teknologi partikel, sejumlah pakar didunia mengambil inisiatif membentuk berbagai organisasi yang terkait dengan teknologi partikel dan menyelenggarakan berbagai forum ilmiah dan menerbitkan jurnal ilmiah untuk saling tukar pengetahuan yang saat ini dihasilkan dalam teknologi partikel dan menggabungkan pengetahuan ini untuk mengembangkan produk-produk baru dengan sifat terekayasa yang bermanfaat.

Salah satu organisasi yang memiliki jaringan global perusahaan dan akademik yang unik dengan program penelitian yang aktif dalam ilmu dan teknologi partikel adalah The International Fine Particle Research Institute (IFPRI) (www.ifpri.net). IFPRI adalah organisasi non-profit. Keanggotaannya mewakili beberapa industri manufaktur terbesar didunia: bahan kimia bulk dan specialty, farmasi, mineral, konstruksi, pelapisan, detergen dan makanan. Anggota industri bekerja bersama-sama dengan peneliti akademik diseluruh dunia dalam ilmu dan teknologi partikel dan bidang lain yang terkait. Dana dari anggota perusahaan digunakan untuk membiayai penelitian kelompok akademik diseluruh dunia. Sejak berdirinya pada tahun 1979, IFPRI telah mengeksplorasi sebagian besar rentang ilmu dan teknologi partikel yang meliputi pembentukan, modifikasi, pencampuran, dispersi, penanganan dan transport partikel. Partikel dapat berkisar dari nanometer sampai milimeter. Dispersi partikel dalam gas, cair dan pasta juga dipelajari.

Di Amerika, dibawah The American Institute of Chemical Engineers (AIChE) ada divisi yang membidangi teknologi partikel, yaitu: The Particle Technology Forum (PTF) (http://www.erpt.org/ptf/). PTF melayani sebagai forum internasional interdisipliner untuk mempromosikan pertukaran informasi, beasiswa, penelitian dan pendidikan dalam bidang teknologi partikel. PTF mensponsori sesi seminar tentang ilmu dan rekayasa yang terkait dengan semua tipe teknologi partikel pada sebagian besar pertemuan tahunan AIChE.

Di Jepang ada The Society of Powder Technology, Japan (SPTJ) yang memiliki agenda pertemuan ilmiah tahunan dalam bidang teknologi partikel. Atas insiatif SPTJ, diadakan seminar tiga tahunan The Asian Particle Technology (APT) Symposium yang pertama kali diselenggarakan di Bangkok, Thailand pada tahun 2000, diikuti dengan APT 2003 di Penang, Malaysia, APT 2007 di Beijing, China, dan APT 2009 di New Delhi, India.

Masih banyak lagi organisasi sejenis yang tersebar diseluruh dunia seperti Australasian Particle Technology Society (APTS), divisi dalam European Federation of Chemical Engineering, Chinese Society of Particuology, dan lain-lain. Organisasi-organisasi tersebut pada umumnya bertujuan mempromosikan hubungan, interaksi dan kerjasama antar semua organisasi yang bekerja dalam bidang teknologi partikel – termasuk penelitian akademik dan industri, organisasi pemerintah dan pabrik komersial. Mereka juga bertindak sebagai forum untuk menyebarkan informasi tentang kemajuan dalam penelitian partikel, mempromosikan minat anggota dan membantu mengorganisir pertemuan teknik/seminar. Bersama-sama mereka mengadakan World Congress on Particle Technology (WCPT) yang diselenggarakan setiap empat tahun, dan tahun ini (2010) merupakan yang ke-enam dan akan diselenggarakan pada bulan April di Nuremberg, Jerman.

Pada umumnya tema utama yang diusung pada pertemuan ilmiah dan penerbitan ilmiah yang terkait dengan teknologi partikel meliputi:

  • Produksi partikel (kristalisasi, atomisasi, aktivasi mekanis, sintesis dalam nyala aerosol, sol-gel dan reaktor mikroemulsi)
  • Communition (crushing, grinding, milling, attrition dan erosi)
  • Aglomerasi (granulasi, pelletisasi, briketing, tableting, sintering)
  • Penanganan bulk powder (penyimpanan, pengumpulan debu dan transportasi)
  • Pencampuran, aliran granular dan fluidisasi
  • Roasting, pembakaran dan reduksi smelting
  • Pemisahan padat-padat (pemisahan gravitasi, elektrostatik, magnetik dan flotasi)
  • Pemisahan padat-cair (filtrasi, pengeringan, pemisahan membran, thickening)
  • Pemrosesan koloid (dispersi, flokulasi dan rheology suspensi)
  • Pelapisan partikel dan modifikasi permukaan
  • Pengepakan dan konsolidasi partikel dalam kondisi kering/basah
  • Perancangan alat penanganan powder, emulsi dan aerosol
  • Pemodelan dan simulasi (CFD, DEM, population balance, molecular modeling, Monte Carlo)
  • Optimisasi proses dan pengendalian maju (pengukuran, otomasi dan sensor)

Contoh Pengembangan dan Aplikasi Teknologi Partikel

Teknik Pencegahan Kontaminasi Partikel dalam Plasma

Disini sebagai ilustrasi akan saya uraikan tentang proyek penelitian yang didanai oleh, pertama, Semiconductor Technology Academic Research Center (STARC), Jepang dan kemudian dilanjutkan Innovation Plaza Hiroshima, Japan Science and Technology Agency (JST), sebuah lembaga penelitian Pemerintah Jepang, yang melibatkan perguruan tinggi (Hiroshima University: Department of Chemical Engineering dan Research Center for Nanodevices and System) dan industri (ADTEC Plasma Technology CO., Ltd. dan Rion CO. Ltd), dimana saya menjadi bagian dari proyek ini sebagai peneliti JST. Proyek ini bertujuan untuk mengembangkan generator rf plasma baru, dan sistem pemantauan dan penghilangan partikel untuk mengurangi degradasi lapisan tipis karena kerusakan yang disebabkan plasma dan kontaminasi partikel. Tugas utama saya adalah mengevaluasi proses plasma untuk memprediksi perilaku partikel dalam plasma, baik secara eksperimen maupun teoritis, dan mengembangkan teknik penghilangan partikel dalam reaktor plasma.

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya mengetahui terlebih dahulu apa itu plasma dan bagaimana karakteristiknya. Plasma adalah gas yang terionisasi secara lemah yang terdiri atas kumpulan elektron, ion dan spesies atom dan molekul netral dimana jumlah pembawa muatan listrik negatif dan positif hampir sama. Ada sejumlah tipe plasma, alamiah atau buatan, yang terbentang dari bintang, angin dan korona matahari, dan ionosphere bumi sampai pada daerah arc bertekanan tinggi, tabung kejut, dan reaktor fusi. Tipe plasma berbeda terutama pada kerapatan elektron dan energi elektron rata-rata. Gambar 1 mengilustrasikan karakteristik sejumlah plasma buatan dan alam dalam istilah suhu elektron dan kerapatan. Daerah yang diarsir pada gambar tersebut merupakan daerah utama aplikasi plasma di industri.

Screen Shot 2018-07-24 at 11.17.36
Gambar 1. Tipikal plasma yang dicirikan oleh energi dan kerapatan elektron.

Proses plasma banyak digunakan dalam pemrosesan bahan elektronik, khususnya etching dan deposisi lapisan tipis. Dengan bantuan plasma proses dapat dilakukan pada suhu yang lebih rendah karena reaksi dipicu oleh tumbukan elektron yang memiliki energi sangat tinggi. Akan tetapi, proses plasma dikenal sebagai proses kotor karena kecenderungan plasma sendiri untuk menghasilkan partikel melalui nukleasi fasa gas.[1] Partikel yang dihasilkan dalam plasma bermuatan listrik negatif dan terperangkap disekitar batas plasma/sheath.[2,3] Kehadiran partikel dalam plasma memiliki pengaruh yang dapat diabaikan sepanjang mereka tidak terdeposisi pada lapisan. Akan tetapi, tanpa pengendalian yang tepat, mungkin sulit untuk menjamin bahwa partikel tidak terdeposisi pada lapisan. Kontaminasi partikel dapat terjadi pada saat operasi kontinyu atau pada akhir operasi ketika plasma dipadamkan.[2,4]

Untuk memahami perilaku partikel didalam reaktor plasma, partikel dalam reaktor divisualisasi dengan teknik perpendaran sinar laser (LLS) yang digabung dengan citra video.[5,6] Diagram skema susunan alat dan sistem pengukuran ditunjukkan pada Gambar 2. Visualisasi memberikan pandangan yang lebih baik tentang sifat alamiah perilaku partikel dan memberikan dasar untuk pengendalian kontaminasi. Dengan teknik tersebut ditemukan bahwa gerak partikel dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama: thermophoresis, laju alir gas, konsentrasi precursor, dan tekanan.[2,3,5,6]

Screen Shot 2018-07-24 at 11.21.02
Gambar 2. Diagram skema susunan alat dan sistem pengukuran.

Partikel yang terbentuk dalam plasma terletak pada batas sheath didekat elektroda dan terutama tumbuh didaerah tersebut dengan ukuran yang berkisar dari 50 sampai 210 nm dan konsentrasi partikel berkisar dari 106 sampai 107/cm3.[3,6] Ukuran dan konsentrasi partikel tergantung pada konsentrasi precursor dan tekanan reaktor. Partikel yang terbentuk didapatkan mempengaruhi morfologi permukaan lapisan tipis, khususnya pada kondisi konsentrasi partikel yang tinggi.

Partikel yang terperangkap dibawah showerhead terletak dalam awan terstruktur yang terlokasir pada daerah diskret diantara lubang showerhead (Gambar 3). Ada daerah bebas partikel tepat dibawah lubang dan disekelilingnya pada jari-jari tertentu. Tiga mode perilaku partikel teramati dengan merubah laju alir, daya rf dan ukuran partikel, yakni: lumping, winding dan escaping. Mode perangkap partikel tampaknya mempengaruhi kontaminasi partikel dengan tingkat kontaminasi minimum terjadi pada mode winding.[2]

Screen Shot 2018-07-24 at 11.24.52
Gambar 3. Mode perangkap partikel: (a) Lumping, (b) Winding, (c) Tempat awan.

Berdasarkan pengamatan perilaku partikel didalam plasma sebagaimana diuraikan diatas, dikembangkan dua metoda untuk pengendalian kontaminasi partikel. Yang pertama adalah dengan modulasi gelombang sinus[7] dan yang kedua dengan pengambilan partikel berdasarkan sifat partikel bermuatan listrik yang tersuspensi dalam plasma.[8]

Dalam metoda pertama, plasma rf dimodulasi dengan gelombang sinus untuk mengendalikan pembentukan dan pertumbuhan partikel didalam reaktor plasma untuk deposisi lapisan tipis. Kerapatan dan ukuran partikel yang terbentuk didalam plasma dapat sangat ditekan ketika plasma dimodulasi dengan modulasi sinus pada frekuensi modulasi rendah (<1000 Hz). Selain itu, kontaminasi partikel pada permukaan lapisan tipis turun secara signifikan, juga untuk nanopartikel, dan laju pertumbuhan lapisan tipis pada kisaran frekuensi modulasi pada pembentukan partikel yang sangat kecil tersebut tidak turun. Dibandingkan dengan plasma modulasi gelombang pulsa, modulasi gelombang sinus telah menunjukkan kinerja yang lebih baik ditinjau dari pengurangan pembentukan partikel dan kontaminasi lapisan tipis, dan laju pertumbuhan partikel (Gambar 4). Jadi, plasma modulasi gelombang sinus telah menunjukkan sebagai metoda yang menjanjikan untuk diaplikasikan dalam produksi lapisan tipis dengan laju deposisi tinggi dan kontaminasi partikel rendah.

Screen Shot 2018-07-24 at 11.27.37
Gambar 4. Citra SEM permukaan lapisan tipis dengan mudulasi gelombang pulsa (kiri), modulasi gelombang sinus (tengah), dan gelombang kontinyu (kanan).

Pada metoda kedua, sistem pengambilan partikel berdasarkan pada sifat partikel bermuatan listrik yang tersuspensi pada plasma digunakan untuk mengendalikan kontaminasi partikel selama pembuatan lapisan tipis silicon dioksida dalam reaktor plasma untuk deposisi lapisan tipis. Karena partikel yang tersuspensi didalam plasma membawa muatan listrik negatif, pemberian tegangan bias positif pada pipa logam yang disisipkan kedalam plasma akan menarik partikel yang bermuatan listrik negatif. Sistem ini secara efektif mengambil partikel dari daerah perangkap partikel selama operasi plasma. Bahkan partikel yang berukuran sekecil 10 nm dapat diambil menggunakan metoda ini. Lapisan tipis yang dibuat dengan sistem pengambil partikel terpasang didapatkan hampir bebas dari kontaminasi partikel, yang berbeda dengan kasus tanpa pemasangan sistem pengambil partikel dimana partikel terdeposisi pada lapisan tipis (Gambar 5).

Screen Shot 2018-07-24 at 11.29.23
Gambar 5. Citra SEM lapisan tipis yang dibuat pada kondisi (a) tanpa kolektor partikel, dan (b) dengan kolektor partikel.

Pengembangan Bahan Maju Berbasis Silica dari Sodium Silicate

Silica berpori berstruktur mikro memiliki banyak aplikasi potensial dalam katalisis, pemisahan, mikroelektronik dan sistem pemberian obat. Telah ditunjukkan bahwa cangkang diatom alga coklat, suatu silica biogenic, terbentuk dari asam silicic, Si(OH)4 dari lingkungan airnya sebagai precursor silica.[9] Asam silicic merupakan sodium silicate encer. Terinspirasi oleh pembentukan silica biogenic dalam organisme hidup seperti cangkang diatom alga coklat, telah muncul bidang baru dalam ilmu bahan yang meniru proses biomineralisasi. Sodium silicate yang murah, tidak beracun dan mudah diperoleh menawarkan keuntungan lebih murah dan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan silicon alkoksida yang umum dipakai untuk memproduksi bahan maju berbasis silica. Akan tetapi, pemakaian sodium silicate memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan utama adalah kesulitan untuk menggabungkan silica dengan bahan organik menggunakan prosedur tradisional. Perbedaan sifat alamiah antara bahan organik dan anorganik dalam sifat fisika dan kimia sering menyebabkan pemisahan fasa yang serius dalam sistem pencampuran sederhana.[10,11]

Teknik untuk membuat hibrida organik/anorganik secara umum dapat dibagi menjadi tiga kategori utama:[12] (i) mencari co-solvent untuk masing-masing bahan atau memodifikasi struktur permukaan partikel anorganik untuk mendispersikannya secara efektif dalam pelarut organik, (ii) mengikat partikel anorganik ke molekul organik menggunakan agen pemasangan bi-fungsional, dan (iii) reaksi sol-gel precursor anorganik dalam larutan bahan organik. Dalam pembuatan hibrida organik/silica melalui metoda sol-gel, disyaratkan bahwa bahan organik dapat larut dalam pelarut yang digunakan untuk pembuatannya. Sebagian besar polimer atau surfaktan yang digunakan sebagai template menggunakan silicon alkoksida dapat larut dalam alkohol yang mungkin tidak kompatibel dalam sistem air. Jika diinginkan menggunakan sodium silicate sebagai sumber untuk membuat hibrida organik/silica, harus digunakan polimer yang larut dalam air untuk mendorong terjadinya reaksi.

Kelompok peneliti kami telah berhasil membuat silica mesoporous dari sodium silicate menggunakan metoda sol-gel dengan template gelatin.[11] Didapatkan bahwa luas permukaan spesifik meningkat dari 252,1 m2/g tanpa gelatin menjadi 318,4 m2/g dengan template gelatin. Luas permukaan dapat ditingkatkan menjadi 341,5 m2/g menggunakan co-solvent asam formiat. Ini menunjukkan bahwa gelatin dapat bertindak sebagai porogen untuk menghasilkan pori dalam silica setelah diekstrak. Hasil ini juga menunjukkan bahwa hibrida gelatin-silica dapat dibuat menggunakan larutan sodium silicate sebagai sumber silica. Hibrida seperti ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan rekayasa jaringan tulang buatan.[13]

Selain gelatin, kami juga menggunakan polyethylene glycol (PEG), suatu polimer yang larut dalam air, sebagai template untuk membuat silica mesoporous.[14,15] Volume pori silica dapat dengan mudah dikontrol dengan mengatur konsentrasi PEG. Kapasitas adsorpsi air pada silica ini sangat dipengaruhi oleh volume pori dimana kapasitas adsorpsi berbanding lurus dengan volume pori (Gambar 6a). Kapasitas adsorpsi naik dengan tajam dengan mengimpregnasi kalsium khlorida, promotor garam higroskopis, kedalam silica tersebut. Pada humidity relatif tinggi, kapasitas adsorpsi bisa mencapai kurang lebih 1,6 kali beratnya sendiri dan 2,5 kali kapasitas adsorpsi silica murni. Kurva adsorpsi isothermis dapat dipaskan dengan baik dengan model Dubinin-Radushkevic (D-R) (Gambar 6b).

Screen Shot 2018-07-24 at 11.31.38
Gambar 6. (a) Pengaruh konsentrasi PEG terhadap kapasitas adsorpsi air, (b) Kurva adsorpsi isothermis dan model D-R terkait untuk berbagai konsentrasi CaCl2.

Selain dengan proses basah, kami juga berusaha mengontrol morfologi partikel silica dari larutan sodium silicate dengan spray drying.[16,17] Seperti diketahui, salah satu faktor utama yang mempengaruhi aplikasi praktis partikel silica adalah morfologi luarnya. Sebagai contoh, lipase yang dimmobilisasi dalam silica berbentuk mirip vesicle lebih unggul dibandingkan silica berbentuk batang dalam hal aktivitasnya yang lebih tinggi, kemampuan digunakan kembali dan stabilitas thermalnya karena kelengkungannya yang unik dan ukuran pori interlamelarnya yang besar.[18] Partikel silica berbentuk toroid dapat menyebabkan penurunan aktivitas permukaan dinamis yang lebih besar dari bahan surfaktan di paru-paru karena luas antarmukanya yang lebih besar.[19] Dengan sifat seperti itu, tipe partikel ini dapat digunakan sebagai pembawa obat hirup dengan waktu tinggal lebih lama dalam saluran pernapasan.

Screen Shot 2018-07-24 at 11.33.43
Gambar 7. Diagram skema alat percobaan spray dryer.

Dengan metoda spray drying yang skemanya ditunjukkan pada Gambar 7, dapat dihasilkan partikel silica yang berbentuk bola, toroid atau donut (Gambar 8) yang tergantung pada pH larutan dan suhu pengeringan. Pada pH 11, semua partikel yang dihasilkan pada rentang suhu percobaan berbentuk bola. Ukuran partikel berkisar dari 2 sampai 6 µm dengan distribusi Gaussian. Akan tetapi, ada partikel berbentuk toroid dan donut, selain partikel bola, yang dihasilkan dari droplet pada pH 10. Fraksi partikel toroid bertambah dengan naiknya suhu pengeringan. Hal ini juga terjadi pada pH 2 meskipun pembentukan partikel toroid dan donut terjadi pada suhu yang lebih tinggi. Hasil ini menyarankan bahwa morfologi partikel silica yang dibuat dengan spray drying larutan sodium silicate dapat dikontrol dengan mengatur pH larutan dan suhu pengeringan.

Screen Shot 2018-07-24 at 11.36.43
Gambar 8. Citra SEM partikel berbentuk bola, toroid dan donat yang dihasilkan dengan spray drying larutan sodium silikat.

Kelompok peneliti kami juga mengembangkan bahan maju berbasis silica dari abu bagasse, limbah padat pabrik gula sisa pembakaran bagasse di ketel pembangkit uap, yang kandungan silicanya kira-kira 50%.[20] Proses yang dikembangkan berdasarkan pada sifat kelarutan silica amorf yang terkandung dalam abu, dimana kelarutan silica amorf sangat rendah pada pH<10 dan naik dengan tajam pada pH>10. Dengan sifat kelarutan yang unik tersebut, silica dalam abu bagasse diekstraksi menggunakan larutan NaOH pada pH 13. Larutan sodium silicate kemudian direaksikan dengan HCl untuk mengendapkan silica dan kemudian dituakan untuk menghasilkan silica gel. Luas permukaan silica gel yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh pH ketika dituakan.

Untuk menghasilkan silica gel dengan kemurnian tinggi, dicoba tiga metoda pemurnian yang berbeda, yaitu: perlakuan asam terhadap abu bagasse, perlakuan pertukaran ion terhadap larutan sodium silicate hasil ekstraksi, dan pencucian silica gel kering dengan air demin. Silica gel dengan kemurnian tinggi (>99%berat) dapat dihasilkan dengan mencuci gel yang dihasilkan dengan air demin dan resin penukar ion. Dari karakteristik adsorpsi, tampak jelas bahwa kapasitas adsorpsi silica gel dengan kemurnian tinggi lebih baik dibandingkan dengan yang kemurniannya rendah. Kapasitas adsorpsi maksimum silica gel dengan kemurnian tinggi adalah 18 g H2O/100 g SiO2. Silica gel ini dapat digunakan untuk dessicant, pengering udara dalam kemasan makanan atau obat, pengering udara industri, dan sebagainya. Disini telah ditunjukkan potensi abu bagasse untuk memproduksi silica gel dengan kapasitas adsorpsi air yang sangat bagus yang menjadikannya menguntungkan sebagai penyelesaian masalah lingkungan.

Selain itu dengan memodifikasi permukaan silica gel dengan gugus alkyl, pengkerutan silica ketika dikeringkan pada tekanan ambient dapat dicegah. Hal ini memungkinkan untuk membuat silica aerogel dengan luas permukaan dan porositas yang besar dengan pengeringan pada tekanan ambient, bukan pada kondisi superkritis yang umumnya dilakukan untuk membuat aerogel. Luas permukaan dan volume pori silica aerogel dapat ditingkatkan dari 105 menjadi 500 m2/g dan dari 0,17 menjadi 0,95 cm3/g. Dengan adanya gugus alkyl pada permukaan dan dengan luas permukaan dan volume pori yang besar, silica aerogel ini memiliki potensi yang besar untuk berbagai aplikasi, misalnya: penyimpan hidrogen, sistem pemberian obat, adsorbent, katalis, dsb.

Pembuatan Nanopartikel Magnetite dengan Teknik Elektrokimia

Selain bahan maju berbasis silica dari sodium silicate, kelompok peneliti kami juga mengembangkan metoda elektrokimia sederhana untuk memproduksi nanopartikel magnetite, Fe3O4, menggunakan anoda besi dan air.[21] Nanopartikel magnetite memiliki potensi yang besar untuk penggunaan dalam biomedis seperti pengiriman obat terarah, hyperthemia, pemisahan sel, citra resonansi magnetik, immunoassay dan pemisahan produk biokimia dan dalam lingkungan seperti dalam pengolahan air dan air limbah. Metoda elektrokimia menawarkan banyak keuntungan dibandingkan metoda konvensional untuk memproduksi nanopartikel magnetite. Dengan metoda elektrokimia, ukuran partikel dapat dikontrol dengan mudah dengan mengatur rapat arus elektro-oksidasi atau potensial pada sistem.

Screen Shot 2018-07-24 at 11.39.30
Gambar 9. Skema pembentukan Fe3O4 dengan elektro-oksidasi besi dalam air dan citra SEM nanopartikel magnetite (Fe3O4) yang dihasilkan.

Telah ditunjukkan sebelumnya bahwa pembentukan Fe3O4 selama proses korosi dalam medium air dapat terjadi karena reaksi alkalisasi ion ferrous.[22] Reaksi pembentukan Fe3O4 dapat terjadi jika larutan cukup basa, sekitar 8 atau 9. Oleh karena itu, dalam sistem elektrokimia menggunakan besi sebagai anoda  dan air sebagai elektrolit diharapkan bahwa jika ion OH yang dihasilkan pada katoda dapat mencapai permukaan anoda dengan difusi, konsentrasi ferrous hidroksida yang dibutuhkan untuk terjadinya pembentukan Fe3O4 dapat dicapai. Selain itu, oksigen dapat diperoleh dari elektro-oksidasi ion OH yang berasal dari disosiasi lemah air jika terdapat overpotential pada anoda. Skema proses yang diuraikan diatas dan nanopartikel magnetite (Fe3O4) yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 9. Partikel yang dihasilkan berukuran antara 15-25 nm, yang cocok untuk berbagai aplikasi seperti terapi hyperthemia untuk penyembuhan kanker, ferrofluid, dan sebagainya.

Penutup

Teknologi partikel sedang menapaki kemajuan khusus pada berbagai bidang. Sains dan teknologi partikel sedang dikenali sebagai teknologi yang memungkinkan untuk membantu kita menciptakan sumber energi baru, mengembangkan teknologi kesehatan, membersihkan udara dan air dan membangun bahan yang lebih kuat dan lebih ringan. Teknologi partikel bukan pada akhir pengembangannya, potensinya baru saja mulai. Kemajuan sangat pesat pada teknologi partikel dapat dicapai dengan dukungan penuh dari industri, akademisi dan pemerintah. Masing-masing memiliki peran penting sendiri-sendiri. Akademisi memiliki ide, industri punya dana dan fasilitas, dan pemerintah memegang kekuasaan dan dana. Apabila ketiga sektor tersebut dapat bekerja, berpikir dan membuat perencanaan bersama-sama untuk pengembangan sains dan teknologi, impian untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera akan dapat terwujud.

Banyak kalimat, bahkan banyak buku telah ditulis tentang teknologi partikel, dan saya tidak ingin menambahkannya disini – kecuali mengatakan bahwa saya masih mempunyai mimpi, mimpi seorang ilmuwan. Salah satunya, mimpi mewujudkan visi ITS untuk dikenal dan diakui secara internasional. Bukan dikenal dan diakui hanya sebagai event organiser (EO) ulung, tetapi juga diakui karena karya ilmiahnya. Tentu saja saya tidak ingin mengatakan bahwa penyelenggara seminar internasional itu tidak penting, tetapi itu hanya akan diingat oleh peserta seminar saja, dan setelah itu dilupakan. Sebaliknya, hasil karya ilmiah dan ide yang dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional, akan selalu ada dan tercatat sampai bertahun-tahun bahkan oleh orang yang tidak mengenal kita. Banyak pemenang nobel yang memperoleh penghargaan setelah lebih dari 20 tahun sejak ia menemukan dan mempublikasikan karyanya.

Mudah-mudahan dengan dikukuhkannya saya sebagai besar, saya mampu mengemban amanat ini dengan sebaik-baiknya, mampu menjadi seorang guru besar yang benar-benar layaknya seorang guru besar. Seorang guru besar yang mampu melahirkan karya ilmiah berkualitas dan bermanfaat dengan sumber daya dan dana yang ada. Seorang guru besar yang mampu berkiprah dan unjuk diri dengan penuh rasa percaya diri diajang ilmiah internasional. Bukan seorang guru besar yang hanya mampu mencari alasan dan pembenaran diri agar bisa dengan tenang memaafkan diri sendiri atas ketidakmampuan dan ketidakberdayaannya untuk berkarya di bumi Indonesia, di bumi ITS tercinta ini.

DAFTAR PUSTAKA

  1. A.A. Howling, Ch. Hollenstein, P.-J. Paris, Appl. Phys. Lett. 59, 1409–1411, 1991.
  2. H. Setyawan, M. Shimada, Y. Imajo, Y. Hayashi, K. Okuyama, J. Aerosol Sci. 34, 923–936, 2003.
  3. H. Setyawan, M. Shimada, Y. Hayashi, K. Okuyama, S. Yokoyama, Aerosol Sci. Tech. 38, 120–127, 2004.
  4. G.S. Selwyn, J. Singh, R.S. Bennett, J. Vac. Sci. Tech. A 77, 2758–2765, 1989.
  5. H. Setyawan, M. Shimada, K. Ohtsuka, K. Okuyama, Chem. Eng. Sci. 57, 497-506, 2002.
  6. H. Setyawan, M. Shimada, K. Okuyama, J. Appl. Phys. 92, 5525–5531, 2002.
  7. N. Kashihara, H. Setyawan, M. Shimada, Y. Hayashi, C.S. Kim, K. Okuyama, S. Winardi, J. Nanopart. Res. 8, 395-403, 2006.
  8. H. Setyawan, M. Shimada, Y. Hayashi, K. Okuyama, J. Vac. Sci. Tech. A 23, 388-393, 2005.
  9. T. Coradin, M. Boissiere, J. Livage, Current Med. Chem. 13, 99-108, 2006.
  10. B.M. Novak, Adv. Mater. 12, 1921-1923, 2000.
  11. R. Balgis, D. Wardhani, H. Setyawan, S. Winardi, Proc. The 14th Regional Symposium on Chemical Engineering, AM-21, Yogyakarta, 4-5 Desember 2007.
  12. H.J. Chen, P.C. Jian, J.H. Chen, L. Wang, W.Y. Chiu, Ceramic Int. 33, 643-653, 2007.
  13. J. Jia, X. Zhou, R.A. Caruso, M. Antonietti, Chem. Lett. 33, 202-203, 2003.
  14. D. Bahrak, Y. Riaswati, H. Setyawan, Pros. Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2008, E-60-1-8, Semarang, 13-14 Agustus 2008.
  15. R. Balgis, H. Setyawan, Proc. The 6th Kumamoto University-Surabaya Forum, 104-105, Surabaya, 5-6 November 2008.
  16. H. Setyawan, M. Yuwana, S. Winardi, Proc. The 4th Asian Particle Technology Symposium (APT 2009), APT2009-66-1-6, New Delhi, India, 14-16 September 2009.
  17. H. Setyawan, M. Yuwana, S. Winardi, Proceeding 14th Regional Symposium on Chemical Engineering, AM-22, Yogyakarta, December 4-5, 2007.
  18. G. Zhou, Y. Chen, S. Yang, Micropor. Mesopor. Mat.. 119, 223-229, 2009.
  19. L. Gradon, J. Marijnissen, Optimization of Aerosol Drug Delivery, Kluwer Academic Publisher, 2003.
  20. S. Affandi, H. Setyawan, S. Winardi, A. Purwanto, R. Balgis, Adv. Powder Technol. 20, 468-472, 2009.
  21. F. Fajaroh, H. Setyawan, S. Winardi, Widiyastuti, W. Raharjo, E. Sentosa, Jurnal Nanosains dan Nanoteknologi, Edisi khusus, 22-55, 2009.
  22. A.A. Olowe, J.M.R. Génin, Corr. Sci. 32, 965-984, 1991.

Sabun lawan Body Wash

Saat ini di toko-toko mulai muncul produk mandi selain sabun, yang disebut body wash atau shower gels. Sabun adalah benda yang sudah sangat lama dikenal untuk membersihkan badan ketika mandi dan kita sudah terbiasa memakainya. Jenisnyapun sekarang beragam, ada yang berupa sabun batangan dan akhir-akhir ini barangkali lebih populer sabun cair.

Body wash dan shower gels akhir-akhir ini mulai banyak dikenal sebagai pengganti sabun. Sebenarnya kedua bahan ini memiliki cara yang sama untuk membersihkan badan, hanya saja senyawanya yang berbeda. Untuk lebih mengenal kedua jenis ini berikut akan diuraikan kemiripan dan perbedaan kimia antara kedua bahan tersebut.

Sabun dan body wash sama-sama mengandung surfaktan, sebuah molekul dengan satu ujung larut dalam air (hidrofilik) dan ujung lain larut dalam minyak dan lemak (hidrofobik). Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air, menciptakan busa dan mengemulsikan minyak dan lemak sehingga minyak dan lemak dapat dicuci bersih. pH kulit agak asam, sekitar 5,5. Sabun bersifat basa (pH~9) dan dapat memiliki efek pengeringan, sedangkan body wash memiliki pH yang lebih dekat dengan kulit (antara 4-6).

Sabun dibuat dengan mereaksikan lemak atau minyak (trigliserida) dengan basa yang larut dalam air menghasilkan surfaktan sabun dan gliserol, sebuah produk samping yang bermanfaat. Jika basa yang digunakan adalah natrium hidroksida, sabun yang dihasilkan adalah sabun padat. Apabila menggunakan kalium hidroksida sebagai basa, sabun yang dihasilkan adalah sabun cair. Air sadah ditambah natrium stearat menghasilkan sabun scum (kalsium dan magnesium stearat). Karena bahan kimianya berbeda, sabun dan body wash terasa berbeda di kulit.

Body wash dan shower gel seringkali menggunakan garam dari lauril sulfat dan laureth sulfat sebagai surfaktan. Glikol stearat menghasilkan efek kemilau seperti mutiara (pearlescent).

Pustaka

C. Drahl, Green Washing, Chemical & Engineering News, p. 18-21, 2018.

Pandangan baru pembentukan elektrokimia nanopartikel magnetite

Heru Setyawan, Departemen Teknik Kimia ITS

Mekanisme pembentukan elektrokimia nanopartikel magnetite yang kami usulkan (Fajaroh dkk., 2012) dibuktikan paling sesuai untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi didalam sel elektrokimia (Lazano dkk., 2017). Percobaan yang mereka lakukan bertujuan untuk memperoleh informasi yang relevan untuk mengevaluasi keabsahan banyak mekanisme berbeda yang diusulkan oleh banyak peneliti sebelumnya.

anoda

Nanopartikel magnetite (Fe3O4) menjadi bahan yang sangat penting dalam banyak teknologi termasuk penggunaannya dalam medis, lingkungan, ferrofluida, dan penyimpan energi. Elektrokimia adalah salah satu metode yang menawarkan ciri menarik. Metode elektrokimia dapat menghasilkan produk bersih dengan ukuran nanopartikel yang terkontrol dengan baik, dalam rentang 20-30 nm, distribusi ukuran sempit dengan sifat magnet yang bagus. Selain itu, metode ini mudah di scale-up dengan memperbesar ukuran alat dan jumlah elektroda, merakit proses elektrokimia kontinyu atau kombinasi dari pendekatan tersebut.

Mechanism Fajaroh
Gambar 1. Mekanisme pembentukan partikel magnetite yang kami usulkan yang diterbitkan di Adv. Powder Technol. 23, 328 (2012).

Sayang sekali mekanisme yang mengontrol proses di atas masih belum jelas. Produksi nanopartikel magnetite dengan metode elektrokimia dapat menggunakan anoda besi yang dikorbankan dan katoda besi untuk menghasilkan Fe2+ oleh oksidasi Fe dan OH- oleh reduksi air. Tahapan mekanisme pembentukan elektrokimia nanopartikel magnetite telah banyak dilaporkan tetapi tampaknya masih diperlukan lebih banyak informasi untuk mendukung keabsahannya. Karena kurangnya konsensus pada mekanisme tersebut, Lazano dkk. (2017) mencoba menegaskan atau mendebat beberapa mekanisme berbeda yang telah diusulkan dengan melakukan percobaan yang dirancang khusus untuk memberikan informasi yang relevan untuk membantu mencapai tujuan tersebut.

Proposed mechanism
Gambar 2. Naskah asli dalam makalah yang ditulis oleh Lazano dkk. yang diterbitkan di J. Electrochem. Soc., 164 (4) D184-D191 (2017).

Lazano dkk. (2017) telah mengkompilasi sebagian besar mekanisme pembentukan elektrokimia nanopartikel magnetite yang telah dilaporkan (Tabel 1). Pada dasarnya, sintesa elektrokimia nanopartikel magnetite melibatkan dua reaksi elektrokimia, proses pelarutan besi di anoda dan reduksi air di katoda. Dari mekanisme berbeda yang dipertimbangkan seperti yang tercantum pada Tabel 1, mekanisme yang kami usulkan (Fajaroh dkk., 2012; Gambar 1) tampak paling sesuai dengan hasil pengamatan yang mereka dapatkan, meskipun menurut mereka pengaruh produksi oksigen dapat diabaikan. Naskah asli yang menyatakan hal ini ditunjukkan pada Gambar 2.

Tabel 1

 

Pustaka Acuan

Cabrera, L., S. Gutierrez, N. Menendez, M. P. Morales, and P. Herrasti, Electrochim. Acta, 53, 3436 (2008).

Fajaroh, F., H. Setyawan, W. Widiyastuti, and S. Winardi, Adv. Powder Technol., 23, 328 (2012).

Franger, S., P. Berthet, and J. Berthon, J. solid state Electrochem., 8, 218 (2004).

Gopi, D., M. Thameem Ansari, and L. Kavitha, Arab. J. Chem., 9, S829 (2011).

Ibrahim, M., K. G. Serrano, L. Noe, C. Garcia, and M. Verelst, Electrochim. Acta, 55, 155 (2009).

Lozano, I., N. Casillas, C. Ponce de Leo ́n, F. C. Walsh, and P. Herrastib, J. Electrochem. Soc., 164 (4) D184-D191 (2017).

Manrique-Julio, J., F. MacHuca-Martinez, N. Marriaga-Cabrales, and M. Pinzon-Cardenas, J. Magn. Magn. Mater., 401, 81 (2016).

Melnig, V. and L. Ursu, J. Nanopart. Res., 13, 2509 (2011).

Pascal, C., J. L. Pascal, F. Favier, M. L. E. Moubtassim, and C. Payen, Chem. Mater., 11, 141 (1999).

Rodr ́ıguez-Lo ́pez, A., A. Paredes-Arroyo, J. Mojica-Gomez, C. Estrada-Arteaga, J. J. Cruz-Rivera, C. G. El ́ıas Alfaro, and R. Antan ̃o-Lo ́pez, J. Nanopart. Res., 14, 993 (2012).

Starowicz, M., P. Starowicz, J. Zukrowski, J. Przewoz ́nik, A. Leman ́ski, C. Kapusta,and J. Banas ́, J. Nanopart. Res., 13, 7167 (2011).

Ying, T.-Y., S. Yiacoumi, and C. Tsouris, J. Dispers. Sci. Technol., 23, 569 (2002).

Sistem pendidikan tinggi

modelpend

Oleh: Heru Setyawan

Selain keinginan untuk menjadi universitas riset, yang pada akhirnya menuju WCU seperti diuraikan sebelumnya (disini), Kemenristek Dikti juga berkeinginan untuk mengembangkan program vokasi dan profesional. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga kerja kita agar mampu bersaing dengan tenaga kerja dari terutama negara-negara ASEAN dengan telah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak tahun 2015. Satu permasalahan mengenai universitas riset belum selesai sekarang ditambah dengan permasalah lain yang menjadikan arah pendidikan tinggi di Indonesia menjadi kurang fokus. Hal ini disebabkan perguruan tinggi yang telah menyandang status PTN BH juga dibebani untuk mengemban tugas tersebut. Ini menunjukkan bahwa pemerintah sedang galau untuk memilih model/sistem pendidikan tinggi yang cocok untuk diterapkan.

Melihat sejarah perkembangan pendidikan tinggi di dunia, universitas dan college modern sebagian besar dimulai dari institusi gereja yang diatur sendiri dengan fokus utama pada mendidik anggota pendeta dalam bidang seperti teologi dan hukum. Dari sini muncul beberapa model organisasi yang berbeda – beberapa fokus pada penelitian dan yang lain fokus pada pengajaran dan pelayanan. Pendorong dibelakang semua ini adalah pengakuan bahwa penelitian akademik sering mengungkap pendekatan baru untuk menyelesaikan tantangan praktis seperti cara untuk menumbuhkan bibit pertanian, untuk melebur logam, untuk membangun kendaraan bermotor, dan bahkan untuk mengemas dan mengirim bahan peledak. Dari sini terjadilah reformasi organisasi untuk meningkatkan produktivitas penelitian akademisi.

Pada tingkat institusi, ada tiga perbedaan sistem pendidikan tinggi yang menyolok di dunia: (i) model Inggris yang berorientasi pada pengajaran, (ii) model Jerman yang berorientasi penelitian dan model Amerika yang menekankan pada pelayanan. Menurut Ben-David (1977), model Jerman unggul dalam membesarkan penelitian dasar dan model Amerika menikmati keunggulan dalam penelitian terapan. Di Jerman ada kecenderungan untuk memberikan tanggung jawab semua penelitian dalam disiplin ilmu tertentu pada seorang profesor senior sendirian yang memimpin staf institut dengan sejumlah peneliti yunior. Di Amerika, universitas cenderung mendirikan departemen yang terdiri dari beberapa akademisi berpangkat sama yang mempelajari bidang umum. Di Perancis, organisasi yang terpisah didirikan untuk mengembangkan pengajaran (grandes ecoles) dan untuk mengembangkan penelitian (institute) dalam bidang yang ditugaskan.

Pendidikan tinggi di Indonesia terbilang relatif masih baru sehingga masih berusaha mencari bentuk yang sesuai. Indonesia meluncurkan sistem akademiknya sendiri meskipun cenderung melihat sistem inti untuk menyusun standar dan mendidik orang-orangnya.  Sistem inti adalah sistem yang telah mapan sejak tahap awal sistem pendidikan tinggi modern.Sistem inti meliputi sistem Jerman, Perancis, Inggris dan Amerika. Dari pandangan yang lebih luas, sistem inti dapat diperluas ke Rusia, Spanyol dan Jepang. Sistem pendidikan tinggi Rusia memiliki pengaruh yang kuat pada negara-negara komunis, Spanyol pada negara-negara Amerika Latin dan sistem pendidikan tinggi Jepang pada pendidikan tinggi Asia Timur.

Selain sistem inti, ada dua sistem lagi yang dikenal berdasarkan stratifikasi sistem dunia, yaitu: sistem semi-inti dan sistem periphery (Shin dkk., 2014). Sistem semi-inti adalah sistem pendidikan tinggi yang mengambil gagasan universitas modern dari sistem inti, dan pendidikan tingginya pada hakekatnya sama dengan sistem inti. Sistem periphery adalah pengembangan sistem pendidikan tinggi dengan pengaruh dari sistem inti dan sistem semi-inti. Menurut tipologi ini, negara yang masuk dalam sistem inti diantaranya adalah Jerman, Amerika Serikat, Inggris dan Jepang. Sistem semi-inti adalah Kanada, Australia, Korea, Italia, Norwegia, Belanda, Finlandia, Portugis dan Hongkong dan sistem periphery adalah Tiongkok, Meksiko, Brazilia, Argentina, Malaysia dan Afrika Selatan.

Sistem pendidikan tinggi inti menunjukkan orientasi penelitian yang tinggi tetapi relatif lebih rendah dibandingkan dengan sistem pendidikan tinggi semi-inti. Meskipun rasio dosen yang bergelar doktor lebih besar dalam sistem inti, produktivitas penelitian yang diukur dengan publikasi dan presentasi konferensi internasional adalah lebih besar dalam sistem semi-inti dibandingkan dengan sistem inti. Fakta ini menunjukkan secara tidak langsung bahwa sistem pendidikan tinggi semi-inti menekankan penelitian untuk mengejar sistem inti. Dibandingkan dengan sistem inti dan semi-inti, sistem periphery masih terfokus pada pengajaran dan rendah dalam produktivitas penelitian.

Sebenarnya apapun pilihannya tidak ada yang salah. Apakah ingin mengadopsi secara penuh suatu sistem yang sudah mapan atau dengan melakukan beberapa modifikasi dan penyesuaian yang khas Indonesia sebagai kearifan lokal. Yang penting adalah ada komitmen yang kuat dari segenap pemangku kepentingan, terutama pemerintah dan perguruan tinggi itu sendiri untuk secara terus menerus dan konsisten mengembangkan dan melaksanakan sistem yang telah dipilih dan ditetapkan. Sebagai contoh, yang khas hanya ada di Indonesia adalah adanya Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Unsur terakhir itulah yang khas di Indonesia, yang tidak ditemui di negara lain. Apabila hal itu dilaksanakan secara konsisten dan bersungguh-sungguh, sistem tersebut mungkin akan bisa mewarnai sistem pendidikan tinggi dunia dimana perguruan tinggi tidak boleh melupakan masyarakat disekitarnya dimana ia berada.

Pustaka

Ben-David, J. (1977). Centers of learning: Britain, France, Germany and the United States – New York: McGraw-Hill.

Shin, J. C., Arimoto, A., Cummings, W. K., dan Teichler, U. (2014). Teaching and Research in Contemporary Higher Education: Systems, Activities and Rewards, Dordrech: Springer.

Keseimbangan pengajaran dan penelitian di pendidikan tinggi

Oleh: Heru Setyawan

Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan mengenai keinginan sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia untuk mencapai World Class University (WCU). Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek dikti) mencanangkan 11 perguruan tinggi yang telah berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) untuk segera berbenah agar bisa masuk sebagai WCU. Program dan target dibuat dengan sangat baik meskipun pada akhirnya Kementerian tidak memberikan dana untuk program tersebut. Dengan kata lain, perguruan tinggi diperintahkan dengan upayanya sendiri bisa menjalankan program WCU.

Terlepas dari permasalahan diatas, perguruan tinggi bertaraf WCU sudah dapat dipastikan memiliki kemampuan penelitian yang paripurna sehingga layak menyandang gelar universitas riset. Kalau kita perhatikan perkembangan perguruan tinggi di Indonesia, sampai awal tahun 1990-an sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia masih mengutamakan pengajaran sebagai kegiatan utamanya. Penelitian dirasakan sebagai suatu barang mewah dimana pemerintah hanya menyediakan jumlah dana yang sangat sedikit untuk penelitian. Awal tahun 2000-an dana yang disediakan mulai ditingkatkan dan puncaknya pada tahun 2009 meningkat dengan tajam yang ditandai dengan banyaknya dana yang tidak terserap. Usul penelitian yang awalnya dinyatakan tidak didanai pada akhirnya bisa didanai. Bahkan meskipun penelitian belum membudaya di kalangan akademisi di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia, Kemenristek dikti sudah mencanangkan hilirisasi penelitian. Dengan kata lain, penelitian yang siap dikomersialkan mendapatkan prioritas utama untuk didanai. Beberapa perguruan tinggi bahkan sudah mencanangkan beberapa tahun ke depan sudah bukan lagi universitas riset tetapi universitas enterpreneuer.

Survei yang dilakukan oleh Carnegie Fund pada akhir 1980 dan 2007 (atau 2008) di 19 negara menunjukkan bahwa dengan pertumbuhan pengembangan industri berbasis teknologi, keseimbangan antara pengajaran dan penelitian telah bergerak kearah penelitian dalam sistem pendidikan tinggi (Shin dkk., 2014). Penekanan yang kuat pada penelitian telah menggeser minat akademisi dalam pendidikan dan memicu komplain dari mahasiswa dalam banyak negara. Negara-negara tersebut menaruh lebih banyak beban kepada penelitian dalam alokasi sumber dayanya, memprioritaskan penelitian dalam mempekerjakan dan memprpomosikan dosen, dan secara agresif menarik akademisi yang produktif penelitiannya. Sebagai akibatnya, akademisi cenderung menyukai penelitian, mengalokasikan lebih banyak waktu untuk penelitian dan mendedikasikan lebih sedikit waktu untuk aktivitas pengajaran, khususnya di perguruan tinggi yang fokus pada penelitian.

Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan tentang apakah perguruan tinggi (universitas). Apakah perguruan tinggi itu pusat untuk penelitian atau untuk pengajaran? Apakah gejala yang terjadi di negara-negara sensitif terhadap perangkingan global atau apakah ini gejala global pada abad ke dua puluh satu?

Menurut survei Carnegie Fund, sistem pendidikan tinggi yang sudah mapan (Amerika, Jerman dan Jepang) bergerak ke arah keseimbangan antara pengajaran dan penelitian, sedangkan sistem lain bergerak ke arah penelitian. Amerika dan Belanda menunjukkan perubahan yang mengesankan ke arah pengajaran (Amerika) atau dari penelitian ke arah pengajaran (Belanda). Sebaliknya, perubahan yang jelas ke arah penelitian diidentifikasi dalam sistem pendidikan tinggi yang relatif baru-baru ini muncul seperti Korea, Australia dan Hongkong. Negara-negara tersebut juga menambah waktu untuk penelitian dalam pembagian jam kerja. Yang menarik, negara-negara Amerika Latin tidak menambah jam penelitian sedangkan kesukaan penelitian jelas meningkat. Kekecualian adalah Inggris dimana kesukaan penelitian dan jam penelitian meningkat tajam meskipun Inggris adalah sistem yang mapan. Perubahan ini berkaitan dengan kompetisi institusi yang disebabkan oleh perangkingan global dan masyarakat berpengetahuan.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah pembuat kebijakan (Pemerintah) dan akademisi telah seiring sejalan, seia sekata mengenai arah pendidikan tinggi? Bagaimana dengan para pemangku kepentingan lain dan pengguna? Sepertinya sekarang pembuat kebijakan sedang disibukkan dengan penyusunan standar atau sejenisnya, sistem tata kelola, dan peraturan-peraturan lain untuk menertibkan perguruan tinggi yang tumbuh berkembang dengan subur.

Pustaka

Shin, J. C., Arimoto, A., Cummings, W. K., dan Teichler, U., Teaching and Research in Contemporary Higher Education: Systems, Activities and Rewards, Springer, Dordrech, 2014.

Technopreneurship

IMG_0565Perguruan tinggi saat ini tidak hanya dituntut untuk mendidik mahasiswanya menguasai ilmu dan teknologi pada bidang spesialisasi tertentu, tetapi juga diharapkan dapat memupuk dan membentuk jiwa enterpreneurship. Kata ini mungkin bisa didefinisikan sebagai aktivitas yang secara konsisten dilakukan guna merubah ide menjadi kegiatan usaha yang menguntungkan. Atau, dalam bahasa sederhana menjadi wirausahawa, yaitu seseorang yang mampu mencetak dunia kerja, bukan pencari kerja. Tentu hal ini bukanlah sesuatu yang mudah.

ITS sebagai salah satu perguruan tinggi teknik dan teknologi, berusaha untuk membekali mahasiswanya dengan menggabungkan kedua kata “teknolologi” dan “enterpreneurship” dengan harapan nantinya mereka akan mampu berwirausaha dengan menerapkan teknologi sebagai instrumen dasarnya. Gabungan kedua kata tersebut menjadi kata “technopreneurship” yang bisa dimaknai sebagai perpaduan karakter seseorang yang memiliki kompetensi penerapan teknologi dan semangat membangun usaha.

Awal mula perusahaan besar adalah menjawab pertanyaan sederhana yang merubah dunia, bukan keinginan untuk menjadi kaya

Ada suatu mitos yang mengatakan bahwa perusahaan yang berhasil mulai dengan ambisi yang besar. Implikasinya adalah bahwa pewirausaha harus mulai dengan tujuan raksasa agar berhasil. Hal ini menurut Guy Kawasaki dalam bukunya “The Art of the Start 2.0” tidak selalu benar. Menurutnya, perusahaan besar mulai dengan menanyakan pertanyaan sederhana. Beberapa diantaranya adalah:

  • TERUS, APA? Pertanyaan ini muncul ketika seseorang melihat dan memprediksi suatu trend dan bertanya-tanya tentang akibatnya. Ini bekerja seperti: “Setiap orang akan mempunyai smartphone dengan kamera dan akses Internet.” Terus, apa? “Mereka akan bisa memotret dan membaginya.” Terus, apa? “Kita harus menciptakan aplikasi yang bisa mengunggah foto tersebut, memberi penilaian foto orang lain dan memberi komentar.” Dan, ada ‘Instagram”.
  • APAKAH INI TIDAK MENARIK? Rasa ingin tahu intelektual dan penemuan tak sengaja memberi kekuatan metoda ini. Spencer Silver berusaha untuk membuat lem tetapi menciptakan suatu zat yang hampir tidak bisa merekatkan kertas. Keanehan ini menuntun kepada Post-it Notes.
  • APAKAH ADA CARA YANG LEBIH BAIK? Frustasi dengan perkembangan sesuatu adalah tanda jalan ini. Steve Wozniak membangun Apple I karena ia percaya ada cara yang lebih baik untuk mengakses komputer daripada bekerja untuk pemerintah, universitas atau perusahaan besar. Larry Page dan Sergey Brin berpendapat mengukur link adalah cara yang lebih baik untuk memprioritaskan hasil pencarian dan memulai Google.

Masih ada beberapa pertanyaan lain yang diungkapkan oleh Guy Kawasaki dalam bukunya tersebut. Tetapi, yang perlu ditekankan menurutnya adalah bahwa “awal mula perusahaan besar adalah menjawab pertanyaan sederhana yang merubah dunia, bukan keinginan untuk menjadi kaya.”

Jadi, dari awal harus diniatkan ketika memulai sesuatu, apakah itu perusahaan besar, divisi besar, sekolah besar, LSM besar, pengusaha besar, tujuannya adalah untuk merubah dunia, bukan untuk menjadi kaya. Lebih mudah memulai sesuatu dengan benar dari awal daripada memperbaikinya kemudian. Dengan memerhatikan sedikit isu penting ini, pondasi yang benar dapat dibangun dan membebaskan diri untuk berkonsentrasi pada tantangan besar. (hs)

h-index

ScopusHSTahun lalu, DIKTI mengeluarkan aturan bahwa peneliti yang memiliki h-index Scopus > 2 bisa menjadi ketua pada dua judul penelitian yang didanai oleh DIKTI. Mungkin ada yang bertanya apakah h-index itu dan bagaimana indeks ini dijadikan parameter oleh DIKTI sehingga aturan tersebut diberlakukan. h-index adalah indeks untuk mengkuantifikasi luaran ilmiah seorang peneliti yang diusulkan oleh seorang ahli fisika Jorge E. Hirsch dari University of California at San Diego pada tahun 2005 (Proc. National Academy of Sciences USA, doi: 10.1073/pnas.0507655102). h-index didefinisikan sebagai jumlah paper dengan jumlah sitasi ≥h.

Ada beberapa keterbatasan penggunaan parameter tersebut. Salah satunya adalah mengenai sumber basis data yang digunakan. Saat ini ada beberapa basis data yang digunakan, yaitu: Scopus, Web of Science dan Google Scholar. Scopus dan Web of Science mengumpulkan dan menata jumlah sitasi dan dapat dipakai untuk menghitung h-index setiap peneliti. Serupa, Google Scholar mengumpulkan sitasi penulis dan menghitung melalui Google Scholar Citation. Namun, setiap sumber mungkin menentukan nilai h-index yang berbeda untuk seorang peneliti yang sama. Kadang-kadang variasinya bisa besar untuk masing-masing sumber.

Untuk menentukan h-index seorang peneliti menurut definisi diatas, artikel disusun dengan urutan mengecil, berdasarkan pada berapa kali artikel disitasi. Sebagai contoh, jika seorang peneliti memiliki delapan paper yang masing-masing telah disitasi 35, 28, 19, 10, 7, 6, 5 dan 3 kali, h-index peneliti tersebut adalah 6. Paper pertama 35 memberi nilai 1 – ada satu paper yang telah disitasi paling tidak 1 kali. Paper kedua memberi 2, ada dua paper yang telah disitasi paling tidak 2 kali. Paper ketiga memberi 3, dan begitu seterusnya sampai 6 dengan paper tertinggi keenam. Dua paper terakhir tidak berpengaruh dalam contoh ini karena jumlah sitasinya kurang dari 6 kali.

Artikel      Jumlah sitasi
1              35
2              28
3              19
4              10
5              7
6              6 = h-index
————————
7              5
8              3