Penulisan Ilmiah Hasil Riset: Manfaat atau Sampah?

ImagePada tanggal 27-28 Agustus 2013, Kementerian Riset dan Teknologi menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakosnas Ristek) di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta. Salah satu pembicara kunci adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili oleh Dirjen Dikti. Dalam paparannya, Dirjen Dikti menyinggung betapa terpuruknya karya ilmiah yang dihasilkan oleh peneliti perguruan tinggi. Bahkan dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Malaysia, jumlah karya ilmiah peneliti Indonesia dalam jurnal ilmiah, terutama yang terindeks SCOPUS, masih jauh tertinggal. Hal ini mendorong Ditjen Dikti berupaya keras untuk mencari strategi bagaimana memecahkan masalah ini. Bak gayung bersambut, Kementerian Riset dan Teknologi juga memiliki kebijakan untuk mendorong arah penelitian perguruan tinggi agar lebih bersifat penelitian strategis jangka panjang dan penelitian dasar yang memiliki nilai akademis tinggi sehingga layak untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional.

Sebelum berbicara lebih jauh, mungkin perlu ditegaskan disini apa yang dimaksud dengan kegiatan penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan terdiri atas kerja kreatif yang dilakukan pada basis sistematis untuk meningkatkan persediaan pengetahuan, meliputi pengetahuan tentang manusia, budaya dan masyarakat, dan pemakaian persediaan pengetahuan ini untuk menemukan aplikasi baru. Dari uraian diatas, maka peneliti adalah profesional yang terlibat dalam konsep atau penciptaan pengetahuan baru, produk, proses, metoda dan sistem, dan dalam manajemen proyek bersangkutan.

Meskipun sulit untuk dibagi secara jelas, barangkali penelitian dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: (i) penelitian dasar, (ii) penelitian strategis, (iii) penelitian terapan, dan (iv) pengembangan percobaan dan alih teknologi, yang meliputi kapasitas inovasi dan supervisi. Dibanyak negara maju, meskipun mungkin tidak diatur secara tegas, masing-masing lembaga memiliki ciri khas diranah mana mereka bermain dalam melakukan penelitian. Perguruan Tinggi umumnya lebih berorientasi pada proyek penelitian dasar jangka panjang dan strategis dan dipandang penting untuk ekonomi berbasis pengetahuan. Lembaga ilmu pengetahuan pemerintah atau swasta menggabungkan penelitian strategis dan terapan (orientasi pasar). Sementara, industri skala besar kurang fokus pada penelitian strategis namun sebagian besar terlibat dalam penelitian berorientasi pasar dan alih teknologi.

Akhir-akhir ini, muncul kebutuhan terjalinnya kemitraan kerjasama antara akademisi dan industri atau lembaga penelitian yang didanai pemerintah atau swasta untuk menopang alih pengetahuan dan inovasi. Akan tetapi, bagaimana struktur hubungan seperti itu mungkin masih perlu dirumuskan, misalnya: bagaimana mempertukarkan orang atau mempromosikan program pelatihan dan pendidikan umum. Ada keterbatasan budaya perpindahan dari akademisi ke industri (atau sektor pemerintah ke swasta) dan sebaliknya. Penting untuk menekankan bahwa kedua sektor harus berkembang dan bersama-sama membantu perkembangan penelitian dan pengembangan.

Proses dan ide penelitian

Sebuah penelitian akan menghasilkan hasil yang baik apabila dilakukan dengan cara yang benar dan sistematis. Sering penulis mengikuti seminar hasil penelitian penerima hibah yang dilakukan, baik oleh DIKTI maupun Kemenristek, dimana sebagian besar mengindikasikan bahwa, berdasarkan pengamatan penulis, penelitian dilakukan dengan cara yang tidak sistematis. Karena penelitiannya tidak sistematis, mereka juga tidak mampu mengekspresikan hasil penelitiannya dengan baik dan sistematis sehingga sulit untuk dipahami. Hal ini juga menggambarkan bagaimana kualitas berpikir peneliti. Bagaimana seharusnya penelitian dilakukan agar menghasilkan hasil yang baik karena dihasilkan oleh kualitas pemikiran yang mumpuni dan sistematis.

Sebelum melakukan penelitian, kita harus mencari ide atau gagasan. Ide penelitian bisa berasal pengalaman, teori atau isu terapan. Rasa keingintahuan yang muncul karena kita sering mengamati sesuatu secara tidak sengaja bisa menjadi sumber ide penelitian. Sebagai contoh, ketika melihat banyak sampah organik menumpuk, bisa memunculkan ide bagaimana mengolah dan memanfaatkan sampah tersebut. Ide seperti ini muncul dari pengamatan yang tidak sistematis. Ide penelitian bisa juga bersumber dari pengamatan yang sistematis dengan cara membaca laporan penelitian yang sudah dipublikasikan, penelitian kita sendiri sebelumnya dan yang sedang berjalan atau dari sumber lain. Teori yang ada  mengijinkan kita untuk memprediksi perilaku suatu proses. Akan tetapi, kadangkala pada kondisi tertentu perilaku yang diprediksi dengan teori tersebut menyimpang. Hal ini bisa menjadi sumber ide bagaimana menyelesaikan atau memperbaiki teori yang ada agar dapat digunakan untuk rentang kondisi yang lebih lebar. Yang terakhir adalah sumber ide dari isu terkini. Sumber ide ini biasanya muncul dari kebutuhan untuk menyelesaikan masalah praktis.

Ide penelitian yang sudah kita peroleh tadi harus dikembangkan agar penelitian dapat dilaksanakan dengan baik dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misalnya: sarana dan prasaran, waktu, dan sebagainya.Salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan ide penelitian adalah dengan mengkaji literatur. Kajian literatur adalah menempatkan, memperoleh, membaca dan mengevaluasi literatur penelitian yang terkait dengan bidang minat penelitian yang sedang kita kerjakan. Kajian literatur perlu dilakukan dengan beberapa alasan. Dengan melakukan kajian literaur kita bisa menghindari usaha duplikasi yang tak diperlukan. Kajian litertur sangat berguna pada fasa rancangan penelitian. Merancang penelitian melibatkan beberapa keputusan seperti variabel apa yang dimasukkan dan bagaimana mengukurnya, bahan atau alat apa yang digunakan, prosedurnya bagaimana, dst. Dan yang tak kalah penting adalah bahwasanya kajian literatur menjaga agar kita tidak ketinggalan isu terkini.

Sumber informasi penelitian yang kita kaji bisa berasal dari buku, jurnal ilmiah, prosiding seminar dan internet, yang bisa dikelompokkan menjadi dua: primer dan sekunder. Sumber primer biasanya berisi laporan penelitian utuh yang mengandung semua rincian studi yang bisa ditiru orang lain dengan mudah dan ada uraian tentang alasan dan motivasi penelitian, bahan atau alat, prosedur dan referensi. Sumber sekunder bisa berupa review makalah, artikel teoritis yang menguraikan secara ringkas studi dan hasil atau uraian penelitian yang diperoleh di buku teks, majalah populer, artikel koran, program TV, film atau kuliah.

Mungkin banyak yang bertanya mengenai hasil dari sebuah penelitian. Sebagian besar dari kita barangkali mengharapkan hasil dari penelitian yang kita lakukan berupa produk yang memiliki nilai tambah ekonomi, produk yang bisa dikomersialkan, atau paling tidak bermanfaat bagi masyarakat. Oleh sebab itu, Kementrian yang terlibat langsung dengan kegiatan penelitian, baik Kemendikbud maupun Kemenristek, memberikan porsi yang lebih besar untuk penelitian yang dipandang berpotensi untuk bisa segera dikomersialkan, kalau bisa hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Alasan itulah yang selalu dipertanyakan anggota DPR mengenai produk penelitian. Menurut mereka, dana yang telah diberikan, yang menurut mereka besar, namun sebenarnya sangat kecil dibandingkan dengan dana penelitian di negara maju, harus menghasilkan produk yang nyata. Mungkin pandangan itu benar, tetapi mereka lupa bahwa untuk dapat dikomersialkan, atau dengan kata lain, alih teknologi dari hasil penelitian di laboratorium ke komersial memerlukan waktu, usaha, kesabaran dan ketekunan yang luar biasa, bahkan di negara maju sekalipun.

Sebagai contoh kasus adalah proses alih teknologi implant medis dan dental Bioglass® oleh Geltech, Inc., Orlando, Amerika Serikat yang berhasil mengkomersialkan proses pembuatan optik gel-silica dibawah perjanjian lisensi dari Universitas Florida. Diperlukan waktu 15 tahun untuk mengkomersialkan produk tersebut sejak ditemukan pertama kali tahun 1969 sampai penjualan komersial pertama tahun 1984. Ada beberapa faktor yang ditengarai menghambat terjadinya alih teknologi tersebut. Kontribusi utama adalah kurangnya organisasi yang efektif untuk menfasilitasi perencanaan dan pembiayaan scale-up pilot plant dari proses laboratorium. Faktor lainnya adalah sulitnya melakukan transformasi dari studi berbasis mahasiswa S2 dan S3 yang melibatkan hanya sedikit sampel menjadi produksi teknis ribuan kali dengan kualitas terjamin. Bahkan bisa dikatakan hal ini hampir tidak mungkin dilakukan dalam lingkungan universitas.

Ada beberapa lintasan yang harus dilalui untuk melakukan alih teknologi dari penelitian laboratorium ke produk komersial, yaitu: (1) penelitian, (2) perlindungan paten, (3) penilaian pasar, (4) demonstrasi teknologi dan (5) produksi. Luaran dari masing-masing lintasan tersebut berbeda. Pada umumnya penelitian di universitas menghasilkan lulusan (S1, S2 dan S3) dan publikasi. Luaran yang diharapkan dari perlindungan paten adalah paten yang disetujui. Penilaian pasar menghasilkan perkiraan potensi keuntungan dan resiko. Demonstrasi teknologi harus sudah menunjukkan prototipe, jaminan mutu dan margin keuntungan potensial. Setelah semua tahap di atas dilalui dan dipandang layak, maka tahap selanjutnya adalah produksi dimana dalam tahap ini sudah harus diperoleh keuntungan.

Publikasi dan penulisan ilmiah

Mungkin banyak yang beranggapan bahwa publikasi ilmiah tidak penting karena hanya merupakan tumpukan kertas yang lantas dibuang. Yang lebih penting menurut mereka adalah penelitian yang dilakukan bermanfaat bagi orang banyak (“menghasilkan uang?” “teknolologi tepat guna?”). Apakah memang semua penelitian bisa secara langsung menghasilkan produk yang dapat dijual atau dikomersialkan? Belajar dari contoh kasus yang diuraikan di atas, dan masih banyak contoh yang lain, untuk melakukan alih teknologi dari hasil penelitian di laboratorium hingga menjadi produk komersial diperlukan tahapan yang panjang dan waktu yang lama. Apalagi di Indonesia yang industrinya belum merupakan industri yang nilai kompetitifnya berbasis pengetahuan.

Coba kita bayangkan jika Thomas alva Edison tidak pernah menuliskan, mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil kerjanya. Barangkali orang akan terus bolak balik mencoba dan meneliti tentang bola lampu atau kamera gambar bergerak dan kemajuan yang dicapai sekarang mungkin belum bisa kita nikmati. Dijaman yang sudah maju dan modern sekarang berbagai jenis mobil sudah berhasil dibuat manusia, baik yang berbahan bensin, solar maupun listrik. Coba kita bayangkan jika Nicolas-Joseph Cugnot, yang menemukan mobil mesin uap pada tahun 1769, tidak mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil kerjanya. Barangkali saat ini kita belum bisa menikmati mobil yang nyaman seperti sekarang ini. Orang akan terus melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa ada kemajuan yang berarti.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa salah satu aspek kritis proses ilmiah adalah melaporkan hasil baru dalam jurnal ilmiah, seminar, atau media lain untuk menyebarkan informasi tersebut kepada komunitas yang lebih besar (ilmuwan, pemerintah, masyarakat, industri, dsb.). Komunikasi hasil/ide seperti itu dapat menyumbang kepada genangan pengetahuan dalam disiplin ilmu yang sama (dan berbeda!) dan sangat sering menyediakan informasi yang membantu orang lain menginterpretasikan hasil kajiannya sendiri.

Ketika pertama kali ditemukan pada tahun 1970an, bahan “conductive polymer” tidak memperoleh respons dari masyarakat sama sekali. Pada saat itu dipandang teknologi tersebut belum ada manfaatnya. Apa untungnya mengganti kabel tembaga dengan polimer yang bisa menghantarkan listrik? Kawat tembaga masih jauh lebih murah dan pembuatannya lebih mudah dibandingkan dengan bahan “conductive polymer”, yang memerlukan teknik yang rumit untuk memproduksinya. Namun, ketika perkembangan teknologi elektronika yang menuntut ukuran yang lebih kecil dan ringan, bahan ini mulai dilirik dan menjadi alternatif yang sangat menanjikan. Maka, penelitian tentang bahan ini mulai marak lagi dan sekarang telah menemukan aplikasinya dalam industri elektronika. Pada tahun 2000, Alan Heeger, Alan MacDiarmid dan Hideki Shirakawa menerima hadiah Nobel dalam Kimia “untuk penemuan dan pengembangan conductive polymer”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s