Transformasi Perguruan Tinggi dari Perguruan Tinggi Pengajaran Menuju Perguruan Tinggi Riset

1. Pendahuluan

Baru-baru ini, mengacu pada hasil perangkingan QS World University dimana tidak ada satupun perguruan tinggi di Indonesia yang berhasil menembus 400 terbaik dunia, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) menggulirkan program internasionalisasi perguruan tinggi menuju universitas berkelas dunia. Ada beberapa perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Kemenristek Dikti yang dipandang lebih siap untuk tujuan tersebut. Salah satu tolok ukur sebuah perguruan tinggi dikatakan berkelas dunia adalah dari mutu penelitiannya yang dapat diukur dari banyaknya jumlah publikasi di jurnal internasional, terutama yang terindeks SCOPUS atau jurnal ber-impact factor, jumlah sitasi yang diterima oleh paper yang dipublikasi, jumlah paten, atau parameter lainnya.

Melihat jumlah paper yang dihasilkan oleh perguruan tinggi Indonesia di jurnal internasional, jelas sekali bahwa kontribusi peneliti Indonesia relatif masih sangat kecil. Beberapa cara telah dicoba oleh Kemeristek Dikti untuk meningkatkan jumlah publikasi beberapa tahun terakhir ini. Salah satunya adalah dengan mewajibkan mahasiswa, dari jenjang S1 sampai S3, untuk mempublikasikan hasil penelitiannya sebagai persyaratan untuk bisa lulus. Untuk mahasiswa S3, hal ini sangat wajar, karena seseorang dipandang layak menyandang gelar doktor kalau berhasil menemeukan sesuatu yang baru pada bidang keilmuannya. Akan tetapi, untuk jenjang S1 dan S2, syarat ini terkesan sangat dipaksakan. Cara lain adalah dengan mendorong untuk melakukan kerjasama sebanyak mungkin dengan perguruan tinggi luar negeri. Dalam jangka pendek, cara ini sangat jitu untuk meningkatkan jumlah publikasi di jurnal internasional. Akan tetapi, ketika kerjasama telah berakhir dan pondasi riset yang kuat belum terbangun dengan baik, keberlanjutan publikasi di jurnal internasional akan kembali sulit dilakukan.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan langkah strategis, tidak hanya jangka pendek, untuk meningkatkan kemampuan meneliti dari peneliti dari perguruan tinggi Indonesia. Berikut ini akan dibahas beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan ketika membuat kebijakan, baik itu di perguruan tinggi, maupun nasional mengenai penelitian.

 2. Perguruan Tinggi Riset

Sebelum memulai pembahasan mengenai strategi yang perlu diambil, ada baiknya dibahas terlebih dahulu mengenai apa itu universitas riset. Definisi yang jelas dari universitas riset barangkali sulit untuk dibuat. Akan tetapi, barangkali untuk mendefinisikannya kita perlu mengacu pada fakta berikut. Beberapa temuan paling terkenal didunia dibuat melalui riset universitas. Sebagai contoh, penemuan telegraf, pengungkapan AIDS, asal mula internet dan kemajuan terkini dalam riset pencangkokan sel. Sebagian besar temuan tersebut berdasarkan pada riset dasar sebelum diaplikasikan atau dikomersialkan. Jadi, tampak jelas bahwa universitas dalam hal ini berperan sebagai penghubung antara pengetahuan dan penemuan dimana riset dasar dilakukan.

Mahasiswa merupakan bagian terpadu riset universitas. Ditilik dari hal ini, mahasiswa yang berpeluang besar untuk banyak melakukan kegiatan riset adalah mahasiswa pascasarjana. Mahasiswa pascasarjana inilah yang selanjutnya menjadi generasi ilmuwan, insinyur, dosen dan pemimpin di pemerintah dan industri berikutnya. Oleh sebab itu, ada yang mensyaratkan prosentase mahasiswa pascasarjana harus cukup besar agar bisa disebut sebagai universitas riset. Kriteria lain bisa dipilih, misalnya:

  • Universitas harus paling sedikit memiliki pusat riset yang fungsinya dibawah yuridiksi universitas, tetapi merupakan badan terpisah.
  • Ada kesempatan bagi mahasiswa sarjana berpartisipasi secara langsung dalam riset.
  • Universitas menerima dana riset dari pihak luar.

Atau kriteria lain yang bisa mencirikan universitas riset. Terlepas dari itu semua, harus disadari bahwa ketika sebuah perguruan tinggi bertransformasi dari universitas pengajaran ke universitas riset, waktu yang harus diluangkan oleh dosen untuk riset harus lebih besar. Selain itu, keterlibatan mahasiswa, baik sarjana maupun pascasarjana, dalam penelitian yang dilakukan dosen harus besar. Dengan kata lain, budaya meneliti dilingkungan perguruan tinggi telah tercipta dengan baik.

Dengan telah terbentuknya budaya riset yang baik, luaran yang menjadi indikator kinerja universitas riset seperti publikasi di jurnal internasional, paten, kerjasama dengan industri atau pihak lain akan dengan mudah dilakukan. Selain itu, mutu mahasiswa juga akan dapat ditingkatkan karena pada akhirnya mahasiswa mengalami pembelajaran secara langsung untuk menyelesaikan suatu permasalahan.

 3. Lab-Based Education

Seperti telah diuraikan diatas, jumlah kontribusi Indonesia pada ilmu pengetahuan dikancah dunia masih sangat rendah. Hal ini yang tercermin dari masih sangat sedikitnya jumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar, atau malah semua, perguruan tinggi di Indonesia masih berorientasi pada bidang pengajaran. Untuk meningkatkn reputasi Indonesia dimata dunia pada ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu cara adalah dengan mentransformasi universitas dari universitas pengajaran menjadi universitas riset. Tentu saja tidak perlu semua secara bersamaan tetapi dipilih beberapa universitas besar yang memang sudah siap kearah sana.

 

Konsep LBE
Gambar 1. Konsep LBE di ITS.

Pemerintah melalui Kemenristek Dikti telah menggolongkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi tiga tingkatan: PTN, PTN BLU dan PTN BH. Perguruan tinggi yang digolongkan dalam PTN BH didorong untuk segera berubah menjadi universitas riset melalui program internasionalisasi dengan mengucurkan sejumlah dana. Sayang sekali, dana yang dikucurkan untuk tujuan yang besar tersebut relatif kecil dan hanya cukup sebagai pemicu saja tanpa menyentuh akar permaalahan yang mendasar.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) selama 8 tahun terakhir telah mencoba menata arah pendidikannya agar pendidikan dan riset berjalan seiring menuju riset berkualitas tinggi melalui program lab-based education (LBE). Program ini mendapat bantuan dari JICA melalui proyek JICA-Predict. LBE memberi ruang yang sangat luas untuk metoda pembelajaran berbasis student-learning center (SCL) yang memudahkan ITS untuk menyusun suatu sistem pendidikan dengan kurikulum yang berorientasi pada luaran pembelajaran. Ini adalah sebagai langkah awal untuk memberdayakan laboratorium untuk membangun budaya riset yang kuat.

Dengan diberlakukannya LBE, laboratorium harus memiliki roadmap riset yang jelas dengan didukung oleh sumber daya manusia yang terdiri dari kelompok dosen yang tergabung dalam laboratorium, mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3) dan mahasiswa sarjana menjadi sebuah group riset. Group riset dalam suatu laboratorium kemudian dibagi lagi menjadi group-group kecil berdasarkan topik dimana group kecil ini terdiri dari mahasiswa pascasarjana dan mahasiswa sarjana yang sedang mengerjakan tugas akhir. Dengan cara, ini mahasiswa sarjana (S1) bisa belajar pada seniornya dan sebaliknya mahasiswa pascasrjana (S2 dan S3) mendapat keuntungan dengan risetnya karena dibantu oleh mahasiswa S1. Dengan ditunjang keaktifan dosen pembibing anggota laboratorium tesebut, riset akan dapat berjalan dengan baik dan sebagai akibatnya mutu riset semakin bagus dan publikasi di jurnal internasional, paten atau luaran lain seperti kerjasama industri dan pengabdian masyarakat dapat dilakukan.

Dengan menerapkan LBE, dalam 4 tahun terakhir indikator kinerja yang mencirikan universitas riset terus meningkat. Sebagai contoh, jumlah publikasi di jurnal internasional terindeks SCOPUS naik dari 445 pada tahun 2011 menjadi 1280 pada tahun 2015. Hal ini menunjukkan bahwa sistem LBE mampu menumbuhkan budaya riset pada kalangan dosen dan mahasiswa. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja tersebut adalah mahasiswa pascasarjana. Dalam hal ini, mahasiswa pacasarjana memainkan peran yang sangat penting. Oleh sebab itu, mutu mahasiswa pascasarjana harus ditingkatkan. Salah satu cara adalah dengan menarik sebanyak mungkin mahasiswa yang baru lulus jenjang sarjana untuk melanjutkan ke jenjang pascasarjana. Kendala utama adalah keterbatasan biaya.

Untuk itu, beberapa langkah telah dibuat dengan menyediakan berbagai program beasiswa. Untuk lulusan yang baru lulus ada program beasiswa fresh graduate. Skema lainnya adalah program beasiswa unggulan untuk calon dosen dan program pre-magister untuk universitas T3 (tertinggal, terpinggir dan terdepan). Program lainnya adalah peningkatan jumlah mahasiswa S3 melalui program doktor unggulan (PDU) yang sekarang berubah menjadi program magister doktor untuk sarjana unggul (PMDSU) dan peningkatan jumlah mahasiswa pascasarjana asing.

Meskipun sudah menunjukkan arah yang membaik, namun konsep LBE ini masih perlu untuk diperbaiki. Agara dapat berjalan dengnan baik dan berkesinambungan, ada beberapa sarana prasarana yang harus dipenuhi, antara lain:

  1. Ada ruang bagi dosen dan mahasiswa (S1, S2 dan S3) yang representatif untuk tinggal dan belajar di laboratorium, bukan hanya untuk melakukan percobaan.
  2. Ada dana operasional rutin bagi laboratorium sehingga kegiatan riset dapat berjalan dengan lancar.
  3. Ada pertemuan rutin antar anggota laboratorium (dosen dan mahasiswa) untuk mendiskusikan banyak hal mengenai riset.

Barangkali masih banyak lagi yang perlu dipikirkan dan disiapkan agar tujuan untuk menjadi universitas riset dengan reputasi internasional dapat tercapai dengan lebih cepat.

4. Penutup

Dengan perkembangan ilmu pengetahunan dan teknologi yang semakin cepat, tidak dapat dihindari bahwa perguruan tinggi di Indonesia harus segera bertransformasi dari perguruan tinggi pengajaran menjadi perguruan tinggi riset. Memang masih banyak kendala yang dihadapi mulai dari peraturan yang membelenggu dan menghambat laju percepatan riset sampai kurangnya budaya riset di kalangan perguruan tinggi itu sendiri. Akan tetapi, hal ini tidak boleh menghalangi langkah untuk maju dan kita harus terus berusaha dan berikhtiar secara konsisten untuk mewujudkannya.

(hs)

Disampaikan pada Seminar “Pengembangan Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Malang, 21 November 2015.

Penulisan Ilmiah Hasil Riset: Manfaat atau Sampah?

ImagePada tanggal 27-28 Agustus 2013, Kementerian Riset dan Teknologi menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakosnas Ristek) di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta. Salah satu pembicara kunci adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili oleh Dirjen Dikti. Dalam paparannya, Dirjen Dikti menyinggung betapa terpuruknya karya ilmiah yang dihasilkan oleh peneliti perguruan tinggi. Bahkan dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Malaysia, jumlah karya ilmiah peneliti Indonesia dalam jurnal ilmiah, terutama yang terindeks SCOPUS, masih jauh tertinggal. Hal ini mendorong Ditjen Dikti berupaya keras untuk mencari strategi bagaimana memecahkan masalah ini. Bak gayung bersambut, Kementerian Riset dan Teknologi juga memiliki kebijakan untuk mendorong arah penelitian perguruan tinggi agar lebih bersifat penelitian strategis jangka panjang dan penelitian dasar yang memiliki nilai akademis tinggi sehingga layak untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional.

Sebelum berbicara lebih jauh, mungkin perlu ditegaskan disini apa yang dimaksud dengan kegiatan penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan terdiri atas kerja kreatif yang dilakukan pada basis sistematis untuk meningkatkan persediaan pengetahuan, meliputi pengetahuan tentang manusia, budaya dan masyarakat, dan pemakaian persediaan pengetahuan ini untuk menemukan aplikasi baru. Dari uraian diatas, maka peneliti adalah profesional yang terlibat dalam konsep atau penciptaan pengetahuan baru, produk, proses, metoda dan sistem, dan dalam manajemen proyek bersangkutan.

Meskipun sulit untuk dibagi secara jelas, barangkali penelitian dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu: (i) penelitian dasar, (ii) penelitian strategis, (iii) penelitian terapan, dan (iv) pengembangan percobaan dan alih teknologi, yang meliputi kapasitas inovasi dan supervisi. Dibanyak negara maju, meskipun mungkin tidak diatur secara tegas, masing-masing lembaga memiliki ciri khas diranah mana mereka bermain dalam melakukan penelitian. Perguruan Tinggi umumnya lebih berorientasi pada proyek penelitian dasar jangka panjang dan strategis dan dipandang penting untuk ekonomi berbasis pengetahuan. Lembaga ilmu pengetahuan pemerintah atau swasta menggabungkan penelitian strategis dan terapan (orientasi pasar). Sementara, industri skala besar kurang fokus pada penelitian strategis namun sebagian besar terlibat dalam penelitian berorientasi pasar dan alih teknologi.

Akhir-akhir ini, muncul kebutuhan terjalinnya kemitraan kerjasama antara akademisi dan industri atau lembaga penelitian yang didanai pemerintah atau swasta untuk menopang alih pengetahuan dan inovasi. Akan tetapi, bagaimana struktur hubungan seperti itu mungkin masih perlu dirumuskan, misalnya: bagaimana mempertukarkan orang atau mempromosikan program pelatihan dan pendidikan umum. Ada keterbatasan budaya perpindahan dari akademisi ke industri (atau sektor pemerintah ke swasta) dan sebaliknya. Penting untuk menekankan bahwa kedua sektor harus berkembang dan bersama-sama membantu perkembangan penelitian dan pengembangan.

Proses dan ide penelitian

Sebuah penelitian akan menghasilkan hasil yang baik apabila dilakukan dengan cara yang benar dan sistematis. Sering penulis mengikuti seminar hasil penelitian penerima hibah yang dilakukan, baik oleh DIKTI maupun Kemenristek, dimana sebagian besar mengindikasikan bahwa, berdasarkan pengamatan penulis, penelitian dilakukan dengan cara yang tidak sistematis. Karena penelitiannya tidak sistematis, mereka juga tidak mampu mengekspresikan hasil penelitiannya dengan baik dan sistematis sehingga sulit untuk dipahami. Hal ini juga menggambarkan bagaimana kualitas berpikir peneliti. Bagaimana seharusnya penelitian dilakukan agar menghasilkan hasil yang baik karena dihasilkan oleh kualitas pemikiran yang mumpuni dan sistematis.

Sebelum melakukan penelitian, kita harus mencari ide atau gagasan. Ide penelitian bisa berasal pengalaman, teori atau isu terapan. Rasa keingintahuan yang muncul karena kita sering mengamati sesuatu secara tidak sengaja bisa menjadi sumber ide penelitian. Sebagai contoh, ketika melihat banyak sampah organik menumpuk, bisa memunculkan ide bagaimana mengolah dan memanfaatkan sampah tersebut. Ide seperti ini muncul dari pengamatan yang tidak sistematis. Ide penelitian bisa juga bersumber dari pengamatan yang sistematis dengan cara membaca laporan penelitian yang sudah dipublikasikan, penelitian kita sendiri sebelumnya dan yang sedang berjalan atau dari sumber lain. Teori yang ada  mengijinkan kita untuk memprediksi perilaku suatu proses. Akan tetapi, kadangkala pada kondisi tertentu perilaku yang diprediksi dengan teori tersebut menyimpang. Hal ini bisa menjadi sumber ide bagaimana menyelesaikan atau memperbaiki teori yang ada agar dapat digunakan untuk rentang kondisi yang lebih lebar. Yang terakhir adalah sumber ide dari isu terkini. Sumber ide ini biasanya muncul dari kebutuhan untuk menyelesaikan masalah praktis.

Ide penelitian yang sudah kita peroleh tadi harus dikembangkan agar penelitian dapat dilaksanakan dengan baik dengan mempertimbangkan berbagai faktor, misalnya: sarana dan prasaran, waktu, dan sebagainya.Salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan ide penelitian adalah dengan mengkaji literatur. Kajian literatur adalah menempatkan, memperoleh, membaca dan mengevaluasi literatur penelitian yang terkait dengan bidang minat penelitian yang sedang kita kerjakan. Kajian literatur perlu dilakukan dengan beberapa alasan. Dengan melakukan kajian literaur kita bisa menghindari usaha duplikasi yang tak diperlukan. Kajian litertur sangat berguna pada fasa rancangan penelitian. Merancang penelitian melibatkan beberapa keputusan seperti variabel apa yang dimasukkan dan bagaimana mengukurnya, bahan atau alat apa yang digunakan, prosedurnya bagaimana, dst. Dan yang tak kalah penting adalah bahwasanya kajian literatur menjaga agar kita tidak ketinggalan isu terkini.

Sumber informasi penelitian yang kita kaji bisa berasal dari buku, jurnal ilmiah, prosiding seminar dan internet, yang bisa dikelompokkan menjadi dua: primer dan sekunder. Sumber primer biasanya berisi laporan penelitian utuh yang mengandung semua rincian studi yang bisa ditiru orang lain dengan mudah dan ada uraian tentang alasan dan motivasi penelitian, bahan atau alat, prosedur dan referensi. Sumber sekunder bisa berupa review makalah, artikel teoritis yang menguraikan secara ringkas studi dan hasil atau uraian penelitian yang diperoleh di buku teks, majalah populer, artikel koran, program TV, film atau kuliah.

Mungkin banyak yang bertanya mengenai hasil dari sebuah penelitian. Sebagian besar dari kita barangkali mengharapkan hasil dari penelitian yang kita lakukan berupa produk yang memiliki nilai tambah ekonomi, produk yang bisa dikomersialkan, atau paling tidak bermanfaat bagi masyarakat. Oleh sebab itu, Kementrian yang terlibat langsung dengan kegiatan penelitian, baik Kemendikbud maupun Kemenristek, memberikan porsi yang lebih besar untuk penelitian yang dipandang berpotensi untuk bisa segera dikomersialkan, kalau bisa hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Alasan itulah yang selalu dipertanyakan anggota DPR mengenai produk penelitian. Menurut mereka, dana yang telah diberikan, yang menurut mereka besar, namun sebenarnya sangat kecil dibandingkan dengan dana penelitian di negara maju, harus menghasilkan produk yang nyata. Mungkin pandangan itu benar, tetapi mereka lupa bahwa untuk dapat dikomersialkan, atau dengan kata lain, alih teknologi dari hasil penelitian di laboratorium ke komersial memerlukan waktu, usaha, kesabaran dan ketekunan yang luar biasa, bahkan di negara maju sekalipun.

Sebagai contoh kasus adalah proses alih teknologi implant medis dan dental Bioglass® oleh Geltech, Inc., Orlando, Amerika Serikat yang berhasil mengkomersialkan proses pembuatan optik gel-silica dibawah perjanjian lisensi dari Universitas Florida. Diperlukan waktu 15 tahun untuk mengkomersialkan produk tersebut sejak ditemukan pertama kali tahun 1969 sampai penjualan komersial pertama tahun 1984. Ada beberapa faktor yang ditengarai menghambat terjadinya alih teknologi tersebut. Kontribusi utama adalah kurangnya organisasi yang efektif untuk menfasilitasi perencanaan dan pembiayaan scale-up pilot plant dari proses laboratorium. Faktor lainnya adalah sulitnya melakukan transformasi dari studi berbasis mahasiswa S2 dan S3 yang melibatkan hanya sedikit sampel menjadi produksi teknis ribuan kali dengan kualitas terjamin. Bahkan bisa dikatakan hal ini hampir tidak mungkin dilakukan dalam lingkungan universitas.

Ada beberapa lintasan yang harus dilalui untuk melakukan alih teknologi dari penelitian laboratorium ke produk komersial, yaitu: (1) penelitian, (2) perlindungan paten, (3) penilaian pasar, (4) demonstrasi teknologi dan (5) produksi. Luaran dari masing-masing lintasan tersebut berbeda. Pada umumnya penelitian di universitas menghasilkan lulusan (S1, S2 dan S3) dan publikasi. Luaran yang diharapkan dari perlindungan paten adalah paten yang disetujui. Penilaian pasar menghasilkan perkiraan potensi keuntungan dan resiko. Demonstrasi teknologi harus sudah menunjukkan prototipe, jaminan mutu dan margin keuntungan potensial. Setelah semua tahap di atas dilalui dan dipandang layak, maka tahap selanjutnya adalah produksi dimana dalam tahap ini sudah harus diperoleh keuntungan.

Publikasi dan penulisan ilmiah

Mungkin banyak yang beranggapan bahwa publikasi ilmiah tidak penting karena hanya merupakan tumpukan kertas yang lantas dibuang. Yang lebih penting menurut mereka adalah penelitian yang dilakukan bermanfaat bagi orang banyak (“menghasilkan uang?” “teknolologi tepat guna?”). Apakah memang semua penelitian bisa secara langsung menghasilkan produk yang dapat dijual atau dikomersialkan? Belajar dari contoh kasus yang diuraikan di atas, dan masih banyak contoh yang lain, untuk melakukan alih teknologi dari hasil penelitian di laboratorium hingga menjadi produk komersial diperlukan tahapan yang panjang dan waktu yang lama. Apalagi di Indonesia yang industrinya belum merupakan industri yang nilai kompetitifnya berbasis pengetahuan.

Coba kita bayangkan jika Thomas alva Edison tidak pernah menuliskan, mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil kerjanya. Barangkali orang akan terus bolak balik mencoba dan meneliti tentang bola lampu atau kamera gambar bergerak dan kemajuan yang dicapai sekarang mungkin belum bisa kita nikmati. Dijaman yang sudah maju dan modern sekarang berbagai jenis mobil sudah berhasil dibuat manusia, baik yang berbahan bensin, solar maupun listrik. Coba kita bayangkan jika Nicolas-Joseph Cugnot, yang menemukan mobil mesin uap pada tahun 1769, tidak mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil kerjanya. Barangkali saat ini kita belum bisa menikmati mobil yang nyaman seperti sekarang ini. Orang akan terus melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa ada kemajuan yang berarti.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa salah satu aspek kritis proses ilmiah adalah melaporkan hasil baru dalam jurnal ilmiah, seminar, atau media lain untuk menyebarkan informasi tersebut kepada komunitas yang lebih besar (ilmuwan, pemerintah, masyarakat, industri, dsb.). Komunikasi hasil/ide seperti itu dapat menyumbang kepada genangan pengetahuan dalam disiplin ilmu yang sama (dan berbeda!) dan sangat sering menyediakan informasi yang membantu orang lain menginterpretasikan hasil kajiannya sendiri.

Ketika pertama kali ditemukan pada tahun 1970an, bahan “conductive polymer” tidak memperoleh respons dari masyarakat sama sekali. Pada saat itu dipandang teknologi tersebut belum ada manfaatnya. Apa untungnya mengganti kabel tembaga dengan polimer yang bisa menghantarkan listrik? Kawat tembaga masih jauh lebih murah dan pembuatannya lebih mudah dibandingkan dengan bahan “conductive polymer”, yang memerlukan teknik yang rumit untuk memproduksinya. Namun, ketika perkembangan teknologi elektronika yang menuntut ukuran yang lebih kecil dan ringan, bahan ini mulai dilirik dan menjadi alternatif yang sangat menanjikan. Maka, penelitian tentang bahan ini mulai marak lagi dan sekarang telah menemukan aplikasinya dalam industri elektronika. Pada tahun 2000, Alan Heeger, Alan MacDiarmid dan Hideki Shirakawa menerima hadiah Nobel dalam Kimia “untuk penemuan dan pengembangan conductive polymer”.

Baterai mobil listrik

Akhir-akhir ini ramai dibicarakan tentang proyek “Putra Petir” yang digulirkan pemerintah. Proyek ini menginginkan mobil listrik menjadi andalan mobil nasional yang dikembangkan dan dibuat oleh bangsa sendiri. Ini merupakan salah satu proyek yang sangat ambisius dimana tenggang waktu yang diberikan untuk mewujudkan mobil listrik ini sangat singkat, kurang dari 5 tahun. Lembaga penelitian dan perguruan tinggi besar di Indonesia, seperti ITB, UI, ITS dan UGM, ditantang untuk mengembangkan mobil listrik dan dapat memenuhi harapan pemerintah dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. ITS sendiri telah berencana untuk membentuk tim task force mobil listrik nasional.

Barangkali teknologi yang paling menantang berkenaan dengan pengembangan mobil listrik ini adalah sumber energi mobil itu sendiri, yaitu: baterai. Ini merupakan salah satu tantangan terbesar dalam penyimpan energi elektrokimia [1]. Kesulitan ini timbul dari fakta bahwa baterai seperti itu harus memiliki densitas energi gravimetri dan volumetri yang besar. Densitas energi gravimetri berkaitan dengan kapasitas per satuan berat dan densitas volumetri berkaitan dengan kapasitas per satuan volume. Kedua densitas tersebut harus besar sehingga baterai tidak membebani kendaraan dan memakan tempat.

Sebagai gambaran, mobil listrik kecil dengan jarak tempuh 250 km akan membutuhkan paket baterai 45 kWh. Pada paket baterai dengan densitas 0,25 kWh/kg akan berbobot 180 kg, yang mewakili kira-kira 10-15% dari massa total mobil. Volume baterai ini pada tingkat 75-100 L. Analisa sederhana ini tidak memperhitungkan perbesaran rancangan dalam energi dengan faktor 2 yang tampaknya dibutuhkan untuk memenuhi jaminan kelayakan yang masuk akal. Untuk alasan ini, umur baterai berkaitan erat dengan harga dari sistem ini. Saat ini harga baterai ion lithium pada tingkat $0,5 per W h, yang menyebabkan paket baterai besar harganya kira-kira $20.000.

Lalu, seperti apa rancangan sistem baterai mobil yang ideal? Barangkali densitas daya bukan merupakan faktor kritis untuk baterai kendaraan besar karena densitas energinya yang besar menyediakan daya absolut tinggi. Akan tetapi, keinginan untuk mengisi cepat akan membutuhkan densitas daya yang tinggi. Peningkatan densitas daya umumnya memerlukan pengorbanan densitas energi. Selain itu, infrastruktur listrik untuk pengisian cepat baterai besar tidak ada pada grid. Implementasi akhir akan tergantung pada skema pemanfaatannya. Baterai yang lebih kecil yang digunakan dalam mobil listrik hibrida membutuhkan densitas daya yang lebih besar. Untuk aplikasi seperti itu, baterai menghadapi kompetisi yang masuk akal dari kapasitor elektrokimia. Tetap akan dilihat apakah baterai, kapasitor elektrokimia atau sistem hibrida yang akhirnya akan mendominasi aplikasi ini.

Pustaka

[1] Dillon, S.J., Sun, K., Curr. Opin. Solid State Mater. Sci. (2012), http://dx.doi.org/10.1016/j.cossms.2012.03.002.

Mendadak Miskin

Dalam harian Jawa Pos hari ini (Selasa, 19 Juni 2012) dalam halaman Metropolis ada satu judul berita yang sangat menggelitik: “Banyak Yang Mendadak Miskin”. Berita ini terkait dengan program penerimaan peserta didik baru (PPDB) mitra warga yang dibuka oleh Pemkot Surabaya yang diperuntukkan bagi siswa kurang mampu. Jumlah pendaftar program ini ternyata membludak padahal salah satu syarat mendaftar adalah menyerahkan surat keterangan miskin. Setelah dilakukan verifikasi lapangan ternyata banyak yang seharusnya tidak masuk dalam kelompok ini, mis.: rumahnya bertingkat, ada yang memiliki rumah lebih dari satu, dsb.

Ternyata fenomena seperti itu tidak hanya terjadi ditingkat itu saja. Pada penerimaan mahasiswa melalui jalur Bidik Misi yang juga diperuntukkan bagi mahasiswa tidak mampu, banyak dari kalangan mampu yang mencoba mendaftar melalui jalur ini. Mahasiswa yang sudah diterimapun sering mendapat beasiswa dari lebih dari dua sumber. Padahal sudah jelas ada larangan untuk itu. Alasan yang diberikan salah satunya adalah kalau cuma satu tidak cukup. Tidak cukup untuk apa? Untuk makan? Untuk memenuhi kebutuhan sekunder seperti pulsa, internet, hiburan, nonton?

Fenomena apa ini? mengapa orang suka menjadi orang miskin atau merasa menjadi orang miskin? Apakah memang benar yang ditengarai oleh salah satu sahabat saya Dr. Amien Widodo bahwa bangsa kita ini lebih suka menjadi inlander daripada juragan di tanah kita sendiri?

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan miskin? Mungkin BPPS telah mendefinisikan kategori ini, yang berdasarkan pada penghasilan per bulan dan jumlah orang yang menjadi tanggungan. Menurut ajaran yang saya anut (Islam), meminta-minta seperti itu jelas dilarang. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Orang miskin itu bukanlah orang yang tidak mendapatkan sesuap atau dua suap makanan. Akan tetapi, orang miskin adalah orang yang tidak mempunyai harta kekayaan dan merasa malu meminta-minta kepada orang lain secara paksa”. Ajaran ini adalah ajaran kebesaran jiwa.

Sebaliknya kita dilarang melakukan penghimpunan harta secara berlebihan dan diharuskan untuk bersedekah kepada kaum miskin dan sengsara, meskipun mereka tidak meminta. Rasulullah bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang mati dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan. Barangsiapa yang mempunyai kelebihan belanja, ia harus menyisihkan bagi orang yang tidak cukup belanjanya. Barangsiapa yang mempunyai kelebihan harta, sisihkanlah kepada yang kekurangan.” (hs)