Technopreneurship

IMG_0565Perguruan tinggi saat ini tidak hanya dituntut untuk mendidik mahasiswanya menguasai ilmu dan teknologi pada bidang spesialisasi tertentu, tetapi juga diharapkan dapat memupuk dan membentuk jiwa enterpreneurship. Kata ini mungkin bisa didefinisikan sebagai aktivitas yang secara konsisten dilakukan guna merubah ide menjadi kegiatan usaha yang menguntungkan. Atau, dalam bahasa sederhana menjadi wirausahawa, yaitu seseorang yang mampu mencetak dunia kerja, bukan pencari kerja. Tentu hal ini bukanlah sesuatu yang mudah.

ITS sebagai salah satu perguruan tinggi teknik dan teknologi, berusaha untuk membekali mahasiswanya dengan menggabungkan kedua kata “teknolologi” dan “enterpreneurship” dengan harapan nantinya mereka akan mampu berwirausaha dengan menerapkan teknologi sebagai instrumen dasarnya. Gabungan kedua kata tersebut menjadi kata “technopreneurship” yang bisa dimaknai sebagai perpaduan karakter seseorang yang memiliki kompetensi penerapan teknologi dan semangat membangun usaha.

Awal mula perusahaan besar adalah menjawab pertanyaan sederhana yang merubah dunia, bukan keinginan untuk menjadi kaya

Ada suatu mitos yang mengatakan bahwa perusahaan yang berhasil mulai dengan ambisi yang besar. Implikasinya adalah bahwa pewirausaha harus mulai dengan tujuan raksasa agar berhasil. Hal ini menurut Guy Kawasaki dalam bukunya “The Art of the Start 2.0” tidak selalu benar. Menurutnya, perusahaan besar mulai dengan menanyakan pertanyaan sederhana. Beberapa diantaranya adalah:

  • TERUS, APA? Pertanyaan ini muncul ketika seseorang melihat dan memprediksi suatu trend dan bertanya-tanya tentang akibatnya. Ini bekerja seperti: “Setiap orang akan mempunyai smartphone dengan kamera dan akses Internet.” Terus, apa? “Mereka akan bisa memotret dan membaginya.” Terus, apa? “Kita harus menciptakan aplikasi yang bisa mengunggah foto tersebut, memberi penilaian foto orang lain dan memberi komentar.” Dan, ada ‘Instagram”.
  • APAKAH INI TIDAK MENARIK? Rasa ingin tahu intelektual dan penemuan tak sengaja memberi kekuatan metoda ini. Spencer Silver berusaha untuk membuat lem tetapi menciptakan suatu zat yang hampir tidak bisa merekatkan kertas. Keanehan ini menuntun kepada Post-it Notes.
  • APAKAH ADA CARA YANG LEBIH BAIK? Frustasi dengan perkembangan sesuatu adalah tanda jalan ini. Steve Wozniak membangun Apple I karena ia percaya ada cara yang lebih baik untuk mengakses komputer daripada bekerja untuk pemerintah, universitas atau perusahaan besar. Larry Page dan Sergey Brin berpendapat mengukur link adalah cara yang lebih baik untuk memprioritaskan hasil pencarian dan memulai Google.

Masih ada beberapa pertanyaan lain yang diungkapkan oleh Guy Kawasaki dalam bukunya tersebut. Tetapi, yang perlu ditekankan menurutnya adalah bahwa “awal mula perusahaan besar adalah menjawab pertanyaan sederhana yang merubah dunia, bukan keinginan untuk menjadi kaya.”

Jadi, dari awal harus diniatkan ketika memulai sesuatu, apakah itu perusahaan besar, divisi besar, sekolah besar, LSM besar, pengusaha besar, tujuannya adalah untuk merubah dunia, bukan untuk menjadi kaya. Lebih mudah memulai sesuatu dengan benar dari awal daripada memperbaikinya kemudian. Dengan memerhatikan sedikit isu penting ini, pondasi yang benar dapat dibangun dan membebaskan diri untuk berkonsentrasi pada tantangan besar. (hs)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s