Sapporo, Jepang – Prof. Heru Setyawan menjadi salah satu invited speaker pada The 14th Supergreen 2026: International Conference on Supercritical Fluids yang diselenggarakan pada 3–6 Agustus 2026 di Sapporo, Jepang. Dalam konferensi internasional tersebut, Prof. Heru mempresentasikan hasil penelitiannya pada sesi Electrochemistry, sebuah sesi khusus yang untuk pertama kalinya dimasukkan ke dalam program Supergreen.

Pada presentasinya, Prof. Heru memaparkan hasil pengembangan elektrokatalis bifungsional nikel ferit tersulfidasi yang disintesis menggunakan metode elektrokimia untuk aplikasi pemecahan air (water splitting). Material ini dirancang untuk meningkatkan kinerja reaksi evolusi hidrogen (HER) dan reaksi evolusi oksigen (OER), dua reaksi utama dalam produksi hidrogen hijau yang menjadi salah satu teknologi kunci dalam transisi energi rendah karbon.
Penyelenggaraan sesi Electrochemistry untuk pertama kalinya mencerminkan semakin kuatnya kebutuhan akan inovasi teknologi guna mendukung dekarbonisasi industri menuju target net-zero emission. Berbagai sektor industri kini memerlukan solusi untuk menghasilkan energi dan bahan kimia secara lebih bersih, termasuk melalui pemanfaatan hidrogen hijau yang diproduksi menggunakan proses elektrolisis air.


Menariknya, ruang lingkup Supergreen tidak hanya mencakup fluida superkritis, tetapi juga proses hidrotermal, yang selama ini berkembang sebagai teknologi hijau untuk sintesis material maju, pengolahan biomassa, dan rekayasa material fungsional. Hal ini menjadikan konferensi Supergreen sebagai forum yang sangat relevan untuk mempertemukan peneliti di bidang fluida superkritis, hidrotermal, material, energi, dan elektrokimia dalam menjawab tantangan keberlanjutan globa
Melalui sesi baru ini, para peneliti didorong untuk mengeksplorasi titik temu antara teknologi proses berkelanjutan dengan aplikasi elektrokimia, khususnya dalam pengembangan material untuk produksi hidrogen, penyimpanan energi, dan konversi energi bersih. Kehadiran Prof. Heru pada sesi perdana Electrochemistry sekaligus menunjukkan kontribusi peneliti Indonesia dalam pengembangan teknologi material yang mendukung transformasi industri menuju ekonomi rendah karbon dan masa depan yang lebih berkelanjutan.


Leave a comment