Tag Archives: publikasi ilmiah

Asal mula publikasi ilmiah

Oleh: Heru Setyawan

Publikasi di jurnal ilmiah internasional bereputasi telah menjadi salah satu syarat bagi dosen untuk bisa menduduki jabatan fungsional Guru Besar (Profesor). Sebenarnya bagaimana asal mula publikasi ilmiah ini dan seberapa penting peran publikasi ilmiah ini bagi masyarakat? Tuisan ini akan memaparkan informasi latar belakang tentang asal mula, peran dan sumbangsih dari penerbit.

Gambar 1. Asal mula publikasi ilmiah.

Akar publikasi dapat dilacak sampai kurang lebih 300 tahun yang lalu (Gambar 1). Pada tahun 1439, Gutenberg, seorang pandai besi berkebangsaan Jerman menemukan mesin penyalin tulisan yang dapat dipindahkan. Mesin ini memungkinkan membuat salinan literatur dalam jumlah yang banyak. Naskah agama dan kalender agama adalah jenis dokumen yang pertama disalin. Pada tahun 1580, Elzevir, sebuah keluarga Belanda, mendirikan House of Elzevir yang menjual dan menerbitkan buku. Perusaahaan yang ada saat ini, Elsevier, bukan keturunan langsung dari keluarga asal ini. Namun demikian, Elsevier mengambil namanya untuk menghormati ketika perusahaan memulai bisnisnya pada akhir tahun 1800an.

Pada tahun 1663, Henry Oldenberg ditunjuk sebagai sekretaris Royal Society. Ia mulai mempraktekkan untuk mengirim naskah yang dikirim ke jurnal kepada para pakar yang dapat menilai mutu naskah sebelum diterbitkan. Dari sini, proses penelaahan sejawat diciptakan. Kemudian, ia berinisiatif untuk mengedit nomor pertama “Philosophical Transactions of Royal Society“, yang dianggap sebagai jurnal ilmiah pertama. Penerbitan jurnal pertama kali terjadi pada tahun 1665 ketika Royal Society di Inggris menyadari perlunya mencatat temuan dan transaksi penemuan ilmiah mereka.

Gambar 2 menunjukkan peningkatan jumlah jurnal selama beberapa tahun, dari 1990 sampai 2013. Ini dengan jelas membuktikan bahwa proses penelaahan sejawat terus menjadi praktek yang populer, dan jurnal dengan penelaahan sejawat terus tumbuh. Sistem penerbitan ilmiah, teknik dan medik saat ini telah berkembang lebih daripada 100 tahun dan melayani masyarakat ilmiah dan medik dunia. Industri penerbitan ilmiah, teknik dan medik sangat kompetitif. Setiap tahun, sekitar 2.000 organisasi penerbitan menerbitkan 20.000 jurnal ilmiah dan 1,2 sampai 1,4 juta artikel dari kira-kira 5,5 juta peneliti dari seluruh penjuru dunia.

Gambar 2. Pertumbuhan jurnal dengan penelaahan sejawat dari 1990-2013.

Menurut Oldenberg, jurnal atau publikasi ilmiah melaksanakan empat peran untuk Royal Society. Peran pertama adalah Pendaftaran, yang menempatkan penerbit sebagai pihak ketiga yang merdeka dan netral untuk melacak risalah ilmu pengetahuan. Peran kedua adalah sertifikasi, yang mengharuskan penerbit secara aktif mengelola editor dan dewan editor, menyediakan stempel persetujuan dan sebagai penjamin mutu terakhir. Peran ketiga adalah penyebaran, yang mana penerbit menyediakan produksi jurnal dasar dan pendistribusiannya. Peran keempat adalah penjagaan, dimana penerbit menjaga dan mengarsip ilmu pengetahuan.

Di era modern saat ini, penerbit sepertinya masih memenuhi empat peran yang telah ditetapkan oleh Oldenberg maupun yang dapat dianggap sebagai peran kelima, yaitu: mempromosikan dan menfasilitasi penggunaan informasi ilmiah. Makalah ilmiah bukan hanya teks “datar”, tetapi diperkaya dalam beberapa cara dalam lingkungan daring. Sebagai contoh, makalah ilmiah diperkaya dengan tautan yang menghubungkannya dengan makalah lain atau dengan sarana multimedia yang dimasukkan dalam makalah. Penerbit juga menjamin bahwa makalah ditemukan oleh mesin pencari dan oleh penyertaannya dalam basis data abstrak. Penerbit melakukan investasi dalam inovasi dan teknologi untuk mencari metoda baru untuk melaksanakan lima peran ini. Penerbit juga mengkoordinasikan pertukaran gagasan antar penulis, editor, penelaah, dan pembaca ilmiah, teknik dan medik yang terdiri dari peneliti, ilmuwan, profesional kesehatan, mahasiswa dan pasien. Mereka mengembangkan produk dan layanan dengan mengidentifikasi masalah dan mencari penyelesaiannya, dan dengan begitu meningkatkan peran dasar penerbitan.

Beberapa komunitas yang dilayani oleh penerbit meliputi:

  1. Peneliti
  2. Praktisi kesehatan
  3. Dosen dan mahasiswa
  4. Perusahaan farmasi
  5. Pustakawan
  6. Masyarakat
  7. Profesional
  8. Masyarakat umum

Sebagai gambaran, Elsevier memiliki jaringan penerbitan yang meliputi lebih dari 7.000 editor dan 70.000 anggota dewan editor. Setiap tahun, jaringan ini berurusan dengan dan mendukung sekitar 570.000 penelaah sejawat dan lebih dari 650.000 penulis. Gambar 3 menunjukkan hasil studi yang dilakukan oleh Publishing Research Consortium pada tahun 2010 dan didasarkan pada tanggapan lebih daripada 3.800 peneliti di seluruh dunia. Studi ini menanyakan kepada peneliti jenis informasi yang penting bagi mereka dan seberapa mudah mereka dapat mengakses informasi tersebut. Semua disiplin ilmu menilai bahwa artikel jurnal sebagai sumber informasi paling penting. Dan, 93% dari peneliti yang disurvei mengungkapkan bahwa akses terhadap informasi penting adalah “sangat mudah” atau “cukup mudah”.

Gambar 3. Hasil studi mengenai kemudahan akses informasi.

Disebabkan oleh investasi oleh penerbit dan pustakawan, ada pertumbuhan yang nyata dalam akses kepada penelitian, yang telah mengakibatkan peningkatan pengiriman artikel. Gambar 4 menunjukkan bahwa dalam istilah pengiriman artikel, beberapa negara yang pertumbuhannya paling cepat adalah dari kawasan negara berkembang.

Gambar 4. Perkembangan global publikasi ilmiah.
Diolah dari Modul Pelatihan Elsevier Researcher Academy: The Origins of Scientific Publishing.

Bagaimana menyiapkan naskah untuk publikasi

Oleh: Heru Setyawan

Tulisan ini mencoba untuk memberi informasi latar belakang publikasi ilmiah dan menguraikan langkah penting dalam menyiapkan naskah untuk publikasi. Praktek inti publikasi akademik adalah penelaahan sejawat yang merupakan konsep mengevaluasi artikel oleh ahli dalam bidangnya (lihat disini). Gambar 1 menyajikan jumlah judul jurnal dari tahun ke tahun. Terlihat disini bahwa proses penelaahan sejawat terus menjadi praktek populer, dan jumlah jurnal dengan penelaahan sejawat terus tumbuh.

Gambar 1. Pertumbuhan jurnal dengan penelaahan sejawat.

Sebagai gambaran, marilah kita lihat siklus publikasi pada Elsevier. Per 2014, artikel yang ada dalam arsip sistem Elsevier berjumlah 12,6 juta. Tergantung pada jurnalnya, secara rata-rata 30-60% ditolak secara langsung oleh salah seorang dari 13.000 editor yang bekerja dengan Elsevier. Artikel yang tidak ditolak akan mengalami penelaahan sejawat. Ada sekitar 560.000 penelaah sejawat yang bekerja dengan Elsevier untuk mengevaluasi artikel-artikel tersebut (per 2014). Dari jumlah tersebut, sekitar setengahnya diterima setelah revisi minor atau mayor. Secara keseluruhan, 365.000 artikel pada akhirnya diterima oleh editor setiap tahun dan “diproduksi”, yang artinya ditata, diunggah dan diterbitkan daring, dihubungkan dengan panggung luar seperti PubMed, dipromosikan kepada pembaca yang sesuai, dan tentu saja diarsip untuk pemakaian nanti. Saat ini di basis data Elsevier ada lebih daripada 12,6 juta artikel dan telah diunduh lebih daripada 700 juta kali, oleh lebih daripada 11 juta peneliti, dari lebih daripada 120 negara.

Siap untuk publikasi? Sebagai aturan praktis yang baik, hasil penelitian sebaiknya tidak dipublikasikan dulu jika: (i) kedaluwarsa, (ii) menduplikasi penelitian sebelumnya, dan (iii) kesimpulan tidak benar atau tidak dapat diterima. Ketiga hal tersebut merupakan indikator yang baik untuk melihat bahwa laporan yang ditulis kurang menarik perhatian ilmiah atau secara substansi tidak maju dalam bidangnya. Hasil penelitian siap dipublikasikan jika informasi yang diperoleh memajukan pemahaman dalam bidang penelitian tertentu. Bentuknya dapat berupa:

  • menyajikan hasil atau metode baru dan orisinil
  • merasionalisasi, menyaring, atau menginterpretasikan kembali hasil yang telah dipublikasi, atau
  • menelaah kembali atau merangkum subyek atau bidang khusus.

Ingat bahwa naskah dan pesan yang kuat adalah sangat penting untuk memaparkan sumbangan pemikiran atau gagasan kepada masyarakat ilmiah.

Apa yang membuat sebuah naskah kuat? Naskah kuat mempunyai tiga ciri kunci. Pertama, pesan ilmiahnya jelas, bermanfaat dan mengesankan. Kedua, pesan disampaikan dan dibangun dengan cara yang logis. Dengan cara ini, naskah akan mampu membawa pembaca tiba pada kesimpulan yang sama seperti penulis, dan format yang dipilih memamerkan bahan dengan cara terbaik. Ketiga, naskah mampu membuat pembaca, penelaah sejawat dan editor dengan mudah menangkap pentingnya penelitian. Semakin besar usaha yang dilakukan untuk membuat naskah terdepan, semakin besar kemungkinan untuk diterima. Editor, penelaah sejawat dan pembaca semuanya ingin menerima dengan baik naskah yang disajikan yang sesuai dengan tujuan dan ruang lingkup jurnal yang dituju.

Ada beberapa tipe naskah yang bisa dipertimbangkan yang cocok untuk tujuan yang berbeda:

  1. Artikel penuh (full article). Tipe ini yang paling sering, umumnya berisi penelitian penting yang kuat, lengkap dan komprehensif.
  2. Surat (Letters) atau komunikasi pendek (short communications). Tipe ini berisi komunikasi cepat dan kemajuan awal penting dan orisinil dalam suatu bidang, yang jauh lebih pendek daripada artikel penuh.
  3. Makalah telaah ulang (review papers). Merangkum perkembangan terakhir topik khusus, menyoroti poin-poin penting yang telah dipublikasi sebelumnya, dan tidak mengenalkan informasi baru. 

Sebelum memilih tipe artikel untuk sebuah naskah, kita harus mengevaluasi kerja kita sendiri. Pertanyaan berikut mungkin bisa membantu:

  • Apakah penelitian cukup untuk sebuah artikel penuh?
  • Apakah penelitian begitu menggairahkan sehingga harus terbit secepat mungkin dalam sebuah komunikasi pendek?

Pembimbing atau kolega bisa menjadi sumber yang baik untuk dimintai nasehat terhadap tipe naskah. Orang luar kadang-kadang mampu melihat lebih jernih daripada kita sendiri.

Memilih jurnal yang tepat merupakan langkah yang sangat penting. Dengan demikian, penelitian yang kita publikasikan akan sampai pada pembaca yang kita maksudkan. Jika sebuah makalah berada di luar ruang lingkup jurnal, sepertinya akan dengan segera ditolak oleh editor. Bukan karena mutu penelitiannya, tetapi karena topik tidak sesuai dengan jurnal. Sangat penting untuk diingat agar jangan bertaruh dengan mengirim naskah yang sama pada lebih daripada satu jurnal pada waktu yang bersamaan. Standar etika internasional melarang pengiriman naskah ganda atau serempak, dan editor benar-benar akan mencari tahu. Ingat bahwa pembimbing, yang sering menjadi ko-penulis, memiliki tanggung jawab juga terhadap penelitian yang akan dipublikasikan, dan bisa juga dimintai bantuan. Kolega mungkin juga bisa membantu memutuskan jurnal mana yang cocok. Teliti semua calon jurnal untuk mencari tahu Tujuan dan Ruang lingkupnya, tipe artikel yang diterima, pembaca dan topik yang sedang panas. Sebagai saran, artikel dalam daftar pustaka biasanya dapat mengarahkan secara langsung jurnal yang tepat. Kunjungi laman jurnal pada penerbitnya, dan baca abstrak publikasi terakhir.

Salah satu pertimbangan dalam memilih jurnal adalah Impact Factor, yang memberi informasi berapa kali artikel terbaru dalam satu jurnal dirujuk secara rata-rata pada tahun itu (lihat disini). Impact factor tidak memberi indikasi tentang sitasi masing-masing artikel. Ketika mempertimbangkan jurnal yang akan kita tuju untuk naskah kita, Impact Factor dapat memberi panduan, tetapi jangan menjadi satu-satunya alasan memilih sebuah jurnal.

Editor (dan penelaah) tidak suka menghabiskan waktu untuk naskah yang tidak disiapkan dengan baik. Itulah sebabnya setiap jurnal mempunyai “Panduan untuk Penulis (Guide for Authors) dengan rincian spesifik untuk menyiapkan sebuah manuskrip. Gunakan Panduan untuk Penulis meskipun baru draf pertama. Hal ini akan membantu dalam tata letak naskah, gaya referensi, nomenklatur, gambar dan tabel, dan hal-hal penting lainnya. Ini akan menghemat waktu, baik bagi penulis maupun editor dan penelaah.

Sebelum mulai menulis makalah, tentukan apakah penelitian siap dipublikasikan dengan menganalisis pentingnya capaian penelitian. Kemudian putuskan tipe naskah yang paling baik, apakah komunikasi pendek, artikel penuh atau makalah telaah ulang. Pilihlah jurnal sasaran yang paling sesuai dan mempunyai tingkat pembaca yang tepat dan bergengsi untuk tingkat penelitian yang dicapai. Periksa Panduan untuk Penulis untuk jurnal sasaran, dan dapatkan rincian untuk penyiapan manuskrip. (hs)

Diolah dari Modul kuliah Elsevier Researcher Academy: “How to Prepare manuscript for publication”.

Artikel terkait


Bagaimana menelaah sebuah naskah untuk publikasi jurnal

Oleh: Heru Setyawan

Tulisan ini akan mengulas tentang proses penelaahan sejawat (peer review) dan langkah penting yang perlu diikuti ketika menelaah (mereview) sebuah manuskrip. Penelaahan sejawat adalah proses mapan yang menempatkan penelaah sebagai jantung publikasi ilmiah. Proses penelaahan sejawat menjadikan masyarakat ilmiah dapat meningkatkan mutu kajian ilmiahnya, dan membuang penelitian yang jelek, tidak bermakna dan palsu. Philosophical Transactions of the Royal Society adalah jurnal ilmiah pertama yang menformalkan proses penelaahan sejawat pada tahun 1665. Sejak itu, proses ini telah diperbaiki, diformalkan dan diadaptasi untuk dipakai dalam hampir semua publikasi ilmiah. Penelaahan sejawat sekarang melekat erat pada pusat publikasi ilmiah, karena dengan penelaahan sejawat dalam proses publikasi jurnal, apakah akses terbuka atau publikasi tradisional, kerja peneliti tidak hanya dapat ditingkatkan dan divalidasi, tetapi juga didaftar, disebarluaskan dan dipelihara.

Proses penelaahan sejawat tergantung pada peneliti yang secara aktif menyediakan waktunya untuk menelaah artikel. Penelaah – yang juga pembaca dan penulis – memungkinkan proses penelaahan bekerja melalui pemeriksaan dan memberi komentar secara kritis terhadap manuskrip dengan cara yang adil dan tidak menyimpang untuk pada akhirnya memperbaiki penelitian sebelum publikasi.

Sudah menjadi kesepakatan umum masyarakat ilmiah bahwa hipotesa ilmiah atau pernyataan yang dipaparkan kepada dunia tanpa mengalami proses penelaahan sejawat sering diabaikan oleh masyarakat ilmiah. Tanpa penelaahan sejawat, ada alasan kuat untuk mengatakan bahwa hampir atau bahkan tidak ada pengendalian mutu dalam komunikasi ilmiah itu, yang mengarah kepada hilangnya kepercayaan terhadap hasil penelitian yang disajikan. Penelaah adalah tulang punggung penelaahan sejawat.

Menjadi penelaah adalah pekerjaan sukarela, tanpa bayaran. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa banyak peneliti yang bersedia untuk melakukannya? Salah satu alasan utama adalah rasa menjadi bagian dari “tugas atau kewajiban” terhadap masyarakat peneliti. Menelaah artikel sering dipandang sebagai memberikan sesuatu kembali kepada masyarakat. Karena penelaah juga penulis (author), mereka memahami pentingnya peran yang mereka mainkan dalam masyarakat. Penelaah yang lebih berpengalaman melihat nilai menjadi mentor bagi peneliti yang lebih muda, dan bahagia melihat mereka berkembang dan meningkat dengan berjalannya waktu. Banyak peneliti menelaah artikel hanya karena mereka senang dan menikmatinya.

Selain itu, ada juga alasan lain menjadi penelaah artikel, mis.: agar tetap berada di garda terdepan dalam penelitian terkini dan canggih. Menjadi penelaah juga dapat meningkatkan reputasi akademik dan membantu dalam perkembangan karir. Akhirnya, menelaah juga membantu penelitian penulis sendiri dan membangun hubungan dengan jurnal atau editor.

Tujuan penelaahan sejawat adalah untuk menyediakan proses yang mapan bagi peneliti untuk memperbaiki, menvalidasi, mendaftarkan dan memelihara penelitiannya. Penelaahan sejawat manjamin bahwa makalah mutu terbaiklah yang dipilih, dan bahwa penelitian sebelumnya dihargai. Melalui proses penelaahan sejawat, kecurangan dan plagiarisme dapat dideteksi, meskipun tetap menjadi tanggung jawab utama penulis untuk terikat pada prosedur etika internasional yang diakui. Menjadi penelaah sejawat juga memainkan andil penting dalam pengembangan karir.

Penelaah sejawat mengidentifikasi hal-hal yang terkait dengan makalah seperti kesalahan metodologi, kurangnya orisinalitas, atau kesimpulan yang tidak didukung oleh hasil yang diperoleh. Penelaahan sejawat juga harus menyoroti pengabaian dalam daftar referensi dan memperhatikan etika. Akan tetapi, penelaah sejawat tidak bertindak sebagai editor bahasa.

Ada banyak variasi proses penelaahan sejawat, salah satunya ditunjukkan pada Gambar 1. Ada tiga peran kunci dalam penelahaan sejawat: (i) penulis yang menulis makalah, (ii) penelaah sejawat yang memberikan opini dan nasehat ahli, dan (iii) editor yang membuat keputusan.

Gambar 1. Proses penelaahan sejawat secara umum.

Beberapa artikel ditolak tanpa penelahaan luar. Ketika sebuah manuskrip pertama kali dikirimkan ke sebuah jurnal, ketua editor (editor-in-chief) melakukan evaluasi awal untuk memutuskan apakah artikel tersebut masuk ke penelaahan luar atau tidak. Editor melakukan ini untuk mengidentifikasi artikel yang diluar cakupan atau yang mutunya sangat jelek, atau artikel yang mungkin melanggar etika seperti pengiriman ganda. Setiap editor jurnal mempunyai aturan khusus jurnalnya sendiri untuk mengidentifikasi artikel yang ditolak tanpa penelaahan luar.

Pada saat mulai proses penelaahan, Editor jurnal biasanya akan mengundang dua penelaah sejawat potensial untuk menelaah artikel tersebut. Editor biasanya meminta artikel ditelaah dalam dua minggu, meskipun perpanjangan kadang-kadang dapat diterima. Ketika penelaah sejawat mengirimkan laporan dan rekomendasinya, Editor membuat keputusan dan mengomunikasikan ini dengan penulis. Artikel tersebut kemudian direvisi sampai semua komentar penelaah sejawat telah dijawab dengan memuaskan. Laporan penelaah sejawat membantu Editor mencapai keputusan pada makalah yang dikirim.

Jika penelaah sejawat tidak mengirimkan laporan sampai batas waktu yang disepakati, kantor editorial akan menghubunginya. Pengembalian tepat waktu hasil penelaahan adalah sangat penting. Jika sudah menyetujui permintaan Editor sebuah jurnal untuk menelaah sebuah makalah, usahakan mengembalikan laporan dengan cepat. Sebagai seorang penulis, kita tahu bagaimana rasanya menunggu sebuah keputusan!

Kadang-kadang kedua penelaah sejawat yang diundang tidak dapat menyepakati sebuah rekomendasi, dan mungkin ada perbedaan komentar pada sebuah makalah tertentu. Dalam hal ini, penelaah sejawat ketiga mungkin diundang untuk menelaah makalah tersebut. Editor jurnal akan memutuskan ketika ini diperlukan. Dalam semua kasus, penelaah sejawat tetap anonim, meskipun jika diminta mungkin dapat diberitahukan.

Sebagai penelaah sejawat barangkali perlu dipahami mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam proses penelaahan. Penelaah sejawat tidak boleh menghubungi penulis secara langsung tentang makalah mereka, dan harus mengikuti instruksi Editor jurnal sepanjang waktu. Seluruh manuskrip dan bahan terkait yang diterima sebagai penelaah sejawat harus diperlakukan sebagai konfidensial, dan tidak boleh dibagikan kepada orang lain atau diambil sendiri. Ketika menyiapkan komentar untuk penulis, penelaah harus memberikan umpan balik yang membangun dan berdasarkan bukti.

Ketepatan waktu adalah kunci dalam penelaahan. Semua jurnal bertujuan untuk memberikan keputusan pertama kepada penulis secepat mungkin. Jadi, kerjasama penelaah sejawat dalam menepati jadwal adalah sangat penting, dan sangat dihargai oleh seluruh tim editorial. Ini meliputi staf editorial, Editor jurnal, penerbit dan semua penelaah sejawat yang bekerja sangat keras untuk mengurangi waktu yang penulis – seperti anda dan kolega anda – harus tunggu untuk sebuah keputusan.

Tabel 1 menyajikan ringkasan bagaimana melakukan penelaahan secara sistematis. Pertama yang perlu dilihat dalam melakukan penelaahan adalah nilai penting dan kejelasan hipotesis penelitian. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah artikel memberikan konteks untuk pengujian hipotesis? Kemudian, pertimbangkan orisinalitas penelitian. Apakah artikel memberi sumbangan baru terhadap literatur.

Tabel 1. Pendekatan sistematis proses menelaah.

Seksi berikutnya adalah metodologi. Metodologi harus dijelaskan lengkap dan relevan dengan penelitian, dan harus bisa diulangi. Seksi pembahasan yang bagus akan menghubungkan kembali temuan dengan tujuan penelitian seperti diuraikan dalam Pendahuluan. Penulis harus membicarakan siratan hasil yang dipaparkan. Akhirnya, pertimbangkan gaya penulisan dan penyajian gambar dan tabel. Apakah semua gambar dan tabel perlu dan apakah mereka menambah kedalaman dan mutu artikel. Dapatkah artikel disusun lebih baik, dan bahasanya jelas, ringkas dan cocok untuk pembaca yang relevan?

Judul artikel harus spesifik dan mencerminkan isi manuskrip. Abstrak harus singkat, memberikan ringkasan akurat dari artikel, yang meliputi tujuan, metode, hasil dan simpulan. Abstrak harus tidak mengandung informasi yang tidak dapat berdiri sendiri.

Selama proses penelaahan, masalah etika merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika ada kecurigaan bahwa artikel yang sedang ditelaah mungkin melanggar etika, peringatkan Editor secepat mungkin. Contoh isu etika antara lain publikasi tiruan, fabrikasi atau pemalsuan data, plagiarisme dan konflik kepentingan. Periksa apakah protokol telah disetujui oleh Komite Etika yang sesuai (jika ada). Akhirnya, nama dagang atau singkatan harus digunakan dengan benar.

Langkah akhir dalam melakukan sebuah telaah adalah membuat rekomendasi yang jelas kepada Editor. Ini biasanya diikuti dengan komentar kepada Editor yang bersifat konfidensial. Ketika membuat rekomendasi, pilihan yang umum adalah sebagai berikut:

  • diterima dengan revisi minor
  • diterima dengan revisi mayor
  • ditolak
  • diterima

Memberikan rekomendasi sering dapat menjadi bagian paling sulit dalam proses menelaah terutama bagi penelaah yang masih baru. Akan tetapi, ingat bahwa ini hanyalah “sebuah rekomendasi” dan Editor akan membuat keputusan akhir, sepanjang Editor diberi cukup alasan untuk sampai pada keputusan yang tepat.

Ketika membuat rekomendasi kepada Editor, penelaah sejawat harus memberikan komentar yang spesifik kepada penulis, memberikan umpan balik terhadap struktur artikel, metodologi, hasil dan pembahasan, gaya penulisan dan penyajian. Jangan memasukkan rekomendasi untuk menerima atau menolak dalam komentar ini. Ketika menuliskan komentar untuk penulis, sebaiknya menggunakan bahasa netral dan hindari kritik langsung terhadap penulis. Berikan laporan penelaahan yang membangun. Hasil yang negatif atau merusak akan dapat mematahkan semangat peneliti, khususnya peneliti baru. Penting juga untuk memastikan bahwa komentar kepada Editor, rekomendasi, dan komentar kepada penulis, semuanya konsisten. (hs)

Diolah dari modul kuliah Elsevier Researcher Academy: “How to Review a Manuscript”.

Artikel terkait

Impact factor jurnal ilmiah

Oleh: Heru Setyawan

Cek impact factor jurnal ISI (Tompson-Reuters): https://www.scijournal.org/

Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan tentang minimnya kontribusi ilmuwan Indonesia terhadap sain dan teknologi dunia. Hal ini ditandai dengan jumlah publikasi hasil penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia, baik dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian semacam LIPI, pada jurnal ilmiah internasional bereputasi yang sangat sedikit. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), dan Kemeterian Riset dan Teknologi berupaya untuk meningkatkan jumlah publikasi di jurnal internasional bereputasi. Beberapa upaya yang telah dilakukan, antara lain: (i) memberikan dana hibah penelitian dengan target luaran publikasi di jurnal internasional, dan (ii) memberikan insentif bagi peneliti yang berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya pada jurnal internasional. Beberapa perguruan tinggi juga melakukan hal yang sama. Selain itu, untuk dosen yang menduduki jabatan profesor juga dituntut untuk dapat mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal internasional paling tidak satu publikasi dalam periode 5 tahun. Untuk dapat lulus doktor juga dipersyaratkan untuk publikasi pada jurnal internasional.

Barangkali muncul pertanyaan jurnal internasional seperti apa yang dipandang layak dan diakui oleh ilmuwan internasional. Kriteria atau parameter apa yang menjadi tolok ukur kualitas sebuah jurnal internasional mengingat saat ini ada banyak sekali yang mengklaim jurnal yang diterbitkan adalah jurnal internasional berkualitas tinggi. DIKTI dalam hal ini menggunakan kriteria bahwa jurnal tersebut harus terindeks di SCOPUS untuk mengukur kualitas sebuah jurnal ilmiah. Indikator lain yang digunakan adalah jurnal yang memiliki impact factor, yang lebih banyak dipakai secara internasional.

Impact factor adalah salah satu cara untuk mengevaluasi kualitas jurnal yang dilakukan oleh ISI Journal Citation Reports (JCR). Indikator ini telah dipandang menjadi indikator utama untuk mengukur secara kuantitatif kualitas sebuah jurnal, paper risetnya,  peneliti yang menulis paper tersebut dan bahkan institusi dimana mereka bekerja. Impact factor jurnal adalah ukuran seberapa sering rata-rata artikel pada sebuah jurnal telah disitasi pada tahun tertentu. Impact factor membantu kita mengevaluasi pentingnya jurnal relatif, khususnya ketika membandingkan dengan jurnal lain dalam bidang yang sama. Impact factor dihitung dengan membagi jumlah sitasi pada tahun sekarang pada artikel yang dipublikasi dalam dua tahun sebelumnya dengan jumlah artikel total yang dipublikasi dalam dua tahun sebelumnya.

Impact factor merupakan salah satu dari tiga ukuran standar yang diciptakan oleh The Institute of Scientific Information (ISI) yang digunakan untuk mengukur cara sebuah jurnal menerima sitasi pada artikelnya dengan berlalunya waktu. Akumulasi sitasi cenderung mengikuti kurva seperti Gambar 1. Sitasi pada artikel yang dipublikasi dalam suatu tahun meningkat secara tajam sampai sebuah puncak antara dua dan enam tahun setelah publikasi. Dari puncak ini, sitasi turun dengan waktu. Kurva sitasi suatu jurnal dapat digambarkan dengan ukuran relatif dari kurva tersebut (dalam luas dibawah garis), memanjang sampai dimana puncak kurva mendekati titik pusat, dan laju penurunan kurva. Karakteristik ini membentuk basis indikator ISI impact factor, immediacy index, dan cited-half life.

Image
Gambar 1. Kurva sitasi secara umum.

Impact factor adalah sebuah ukuran dari ukuran relatif kurva sitasi pada tahun 2 dan 3. Ini dihitung dengan membagi jumlah sitasi sekarang yang diterima sebuah jurnal pada artikel yang dipublikasi dalam dua tahun sebelumnya dengan jumlah artikel yang dipublikasi pada tahun yang sama. Jadi, sebagai contoh, impact factor 2010 adalah sitasi pada artikel yang dipublikasi pada 2008 dan 2009 dibagi dengan jumlah artikel yang dipublikasi pada 2008 dan 2009. Angka yang dihasilkan tersebut dapat dipandang sebagai jumlah sitasi rata-rata yang diterima artikel per tahun dalam dua tahun setelah tahun publikasi.

Menggunakan jurnal X sebagai contoh:

Sitasi pada 2010 terhadap artikel yang dipublikasi pada:

  • 2009        = 258
  • 2008        = 199
  • Jumlah = 457

Jumlah artikel yang dipublikasi pada:

  • 2009         = 116
  • 2008         =    71
  • Jumlah = 187

Perhitungan: Impact Factor = 457/187 = 2,444

Immediacy index memberikan ukuran kemiringan kurva, yakni: sampai sejauh mana puncak kurva terletak didekat titik pusat grafik. Ini dihitung dengan membagi sitasi yang diterima jurnal pada tahun itu dengan jumlah artikel yang dipublikasi pada tahun itu. Sebagai contoh, immediacy index adalah jumlah rata-rata sitasi pada 1999 pada artikel yang dipublikasi pada 1999. Angka yang dihasilkan dapat dipandang sebagai gradient awal kurva sitasi, suatu ukuran seberapa cepat artikel dalam jurnal itu mendapatkan sitasi setelah publikasi.

Cited half-life adalah ukuran kecepatan penurunan kurva sitasi. Ini adalah jumlah tahun dimana jumlah sitasi sekarang menurun sampai 50% dari nilai awal (cited half-life adalah 6 dalam contoh yang diberikan pada Gambar 1). Ini merupakan ukuran berapa lama artikel dalam jurnal terus disitasi setelah publikasi.

Dari tiga ukuran yang diuraikan diatas, impact factor adalah yang paling umum digunakan. Nilai impact factor dipengaruhi oleh factor sosiologi dan statistik. Faktor sosiologi meliputi bidang subyek jurnal, tipe jurnal (letter, full paper, review) dan jumlah rata-rata penulis per paper (yang terkait dengan bidang subyek). Faktor statistik meliputi ukuran jurnal dan ukuran jendela pengukuran sitasi.

Pada umumnya, subyek fundamental dan murni memiliki impact factor lebih tinggi daripada yang spesialiasasi atau terapan. Variasi cukup besar dimana jurnal terbaik dalam satu bidang memiliki impact factor yang lebih rendah daripada jurnal paling bawah dalam bidang yang lain. Yang terkait erat dengan variasi bidang subyek adalah gejala kepenulisan berjumlah banyak. Jumlah rata-rata kolaborator pada paper bervariasi menurut bidang subyek, dari sains sosial (dengan dua penulis per paper) ke fundamental life sciences (dimana ada lebih dari empat). Tidak mengejutkan, dengan diberikan kecenderungan penulis untuk merujuk ke hasil kerjanya sendiri, ada korelasi yang kuat dan penting antara jumlah rata-rata penulis per paper dan impact factor rata-rata untuk bidang subyek. Jadi, perbandingan impact factor sebaiknya dibuat hanya untuk jurnal dalam bidang subyek yang sama.

Bahkan dalam bidang subyek yang sama, akan ada variasi yang penting menurut tipe jurnal atau tipe artikel. Jurnal publikasi short atau rapid (sering disebut jurnal “Letters”, mempublikasikan paper pendek, jangan dibingungkan dengan letter to editor) pada umumnya akan memiliki impact factor lebih tinggi daripada jurnal full paper. Impact factor rata-rata review journal umumnya lebih tinggi diatas semua tipe jurnal lain. Tabel 1 menyajikan impact factor beberapa jurnal bidang Teknik Kimia dan yang terkait yang diterbitkan oleh Elsevier B.V.

Tabel 1. Impact factor jurnal teknik kimia dan yang terkait diurutkan dari impact factor tertinggi.
Tabel 1. Impact factor jurnal teknik kimia dan yang terkait yang diterbitkan oleh Elsevier, diurutkan dari impact factor tertinggi.