Sulap elektrokimia

Dalam kimia, banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang bagi orang awam sangat mempesona tetapi sebenarnya sesuatu yang sangat biasa. Dr. Joe Schwarcz, Direktur McGill University Office for Chemistry and Society, Kanada, dalam bukunya “The Genie in the Bottle” memberikan beberapa pandangan singkat tentang bagaimana kimia ini bekerja dalam dunia yang kompleks. Bagi generasi yang masa anak-anak atau remajanya berada pada tahun 1970-an mungkin masih ingat film seri “I dream of Jeannie” yang disiarkan TVRI setiap sore. Film seri tersebut bercerita tentang jin (Jeannie) yang berusia 2000 tahun yang ditemukan berada dalam botol di suatu gurun pasir oleh seorang astronot Kapten Tony Nelson yang jatuh di daerah tersebut. Kapten Nelson kemudian menjadi tuannya, Genie jatuh cinta kepadanya dan kemudian mereka menikah. Barangkali cerita tersebut yang mengilhami Dr. Joe memberi judul bukunya.

Dalam pengantarnya Dr. Joe menceritakan pengalamannya ketika pada suatu malam yang gelap dan berbadai didatangi seorang penjual filter air. Penjual tersebut mengatakan kepada Dr. Joe agar tidak minum air ledeng karena katanya air tersebut mengandung bahan kimia, bahan kimia yang tidak tampak. Untuk membuktikan ucapannya, penjual tersebut mengeluarkan peralatan dari dalam kopernya yang berupa alat listrik yang dipasangi dua batang logam seperti elektroda. Ia minta segelas air ledeng, membauinya dan tampak sangat yakin kalau air tersebut cukup beracun. Kemudian, ia mencelupkan elektroda ke dalam air dan memasukkan alat tersebut ke colokan listrik di dinding. Dalam beberapa detik air berubah menjadi keruh, dan dalam 1 menit terbentuk gumpalan berwarna kuning.

“Lihat,” pria tersebut berteriak dengan penuh kemenangan, untuk menunjukkan bahwa dengan mengalirkan listrik ke dalam air ia berhasil menakut-nakuti bahan kimia nakal keluar dari larutan. Racun yang telah dengan nyaman terlarut sampai ketakutan tersengat listrik sehingga dengan segera keluar menjadi gumpalan.

Penjual tersebut kemudian mengambil filter air dari tasnya, memasang di kran air, mengambil segelas air dan memberi perlakuan seperti sebelumnya. Kali ini air tidak mejadi keruh dan tidak muncul gumpalan berwarna kuning. “Lihat, bahan kimia tak nampak dan beracun telah berhasil disaring oleh filter.”

Sekarang giliran Dr. Joe yang memberi pelajaran kimia. Dr. Joe mengambil gelas berisi air yang ada gumpalan kuning tadi dan meminumnya. Wajah penjual berubah menjadi pucat karena mengira Dr. Joe mau bunuh diri dengan meminum air tersebut. Tetapi tidak terjadi apa-apa. Dr. Joe kemudian mengambil gelas berisi air yang telah disaring tadi, menambahkan beberapa butir garam, mencelupkan elektroda kedalamnya dan menyambungkan alat ke sumber listrik. Yang terjadi sangat mengherankan si penjual karena sekarang muncul kekeruhan dan gumpalan kuning. Kemudian Dr. Joe mengambil segelas air langsung dari kran, mengganti batang besi alat si penjual dengan alumunium dan mengulangi percobaan seperti sebelumnya. Kali ini tidak muncul kekeruhan dan gumpalan kuning. Si penjual terpaku dan terdiam seribu bahasa.

Dr. Joe kemudian menjelaskan bahwa warna kuning tidak datang dari bahan kimia tak nampak yang ada dalam air, tetapi berasal dari salah satu elektroda. Elektrolisa adalah percobaan kimia klasik dimana dua elektroda dicelupkan dalam air dan arus dialirkan diantara keduanya. Ini menyebabkan air terurai menjadi hidrogen dan oksigen. Untuk kasus alumunium, ini yang terjadi. Tetapi jika salah satu elektroda terbuat dari besi (anoda), besi bereaksi dengan air membentuk endapan kuning besi oksida – atau karat. Jadi yang diminum oleh Dr. Joe hanyalah sedikit karat, untuk anggap saja minum suplemen besi untuk tubuh.

Sekarang pertanyaannya, kenapa untuk kasus air disaring dan kemudian ditambahkan garam gumpalan kuning terbentuk? (hs)

Jawab: ketika disaring, ion khlor dll. tersaring dan menempel di filter sehingga air memiliki konduktivitas listrik yang sangat kecil yang membuatnya tidak mampu mengalirkan listrik. ketika ditambah garam, konduktivitas listrik air meningkat dan air mampu menghantarkan listrik dan oksidasi besi dapat terjadi.

Pustaka

Disarikan dari buku yang ditulis oleh Schwarcz, Joseph A., The Genie in the Bottle, ECW Press, Quebec, Canada, 2001.

Nanopartikel yang menjanjikan untuk baterai pemasok listrik di daerah 3T

Skema katoda baterai logam-udara.

Peneliti di Laboratorium Elektrokimia dan Korosi, Departemen Kimia ITS telah mengembangkan teknologi berbasis nanopartikel mangan dioksida yang dapat digunakan sebagai pengganti katalis Pt yang harganya mahal untuk reaksi reduksi oksigen. Nanopartikel ini dibuat dengan elektrolisis larutan kalium permanganat dalam air. Dengan mengatur keasaman larutan, morfologi nanopartikel mangan dioksida dapat diatur menjadi nano-batang atau  nano-pipih.

Perangkat penyimpan energi elektrokimia merupakan komponen penting dalam jaringan energi masa depan untuk menyangga pembangkit dan pasokan energi yang diturunkan dari sumber terbarukan. Diantara beberapa kandidat potensial, baterai logam-udara adalah salah satu yang paling menjanjikan. Baterai ini tersusun dari anoda logam dan katoda yang menghirup udara dalam elektrolit yang sesuai. Katoda memiliki arsitektur berpori yang mengijinkan pasokan oksigen terus-menerus dari udara di sekitarnya, yang selanjutnya direduksi dengan adanya katalis (umumnya Pt).

Kedua jenis nanopartikel tersebut memiliki aktivitas katalitik yang bagus untuk reaksi reduksi oksigen dengan mekanisme 2-elektron. Keberhasilan pembuatan katalis murah ini mungkin dapat membantu untuk pengembangan baterai statis untuk daerah tertinggal, terluar, terdepan dimana tidak ada pasokan grid listrik.

Pustaka

M. Mahmudi, W. Widiyastuti, P. Nurlilasari, S. Affandi, H. Setyawan, “Manganese dioxide nanoparticles synthesized by electrochemical method and its catalytic activity towards oxygen reduction reaction,” Journal of the Ceramic Society of Japan, 126(11), 906-913, 2018.

Seminar of progress report

Yesterday, started from 08.00 a.m., four doctoral students presented the progress of their research work relating with their dissertation. The seminar of the progress report is held periodically by the department to monitor the progress of work carried out by doctoral students. Srie Muljani presented her research on the preparation of silica-based materials from geothermal sludge. Geothermal sludge is solid waste of geothermal power plant. The solid waste was taken from the geothermal power plant located in Dieng plateau, Central Java. The silica content in geothermal sludge is approximately 85% that make it a viable raw material for advanced silica-based materials.

Nanik Astuti Rahman presented her work on the preparation of amine-grafted silica gel from bagasse ash for CO2 removal. Bagasse ash is solid waste of sugar cane mills. There are many sugar cane mills in East Java, Indonesia. Most of the sugar cane mills use bagasse, a cellulose fiber remaining after extracting the cane juice, as fuel for boilers to generate steam during sugar processing. Bagasse ash is rich in silica (>51%) and can be a viable raw material for advanced silica-based materials. In addition, silica surface is rich in silanol group that make it possible to graft other functional group for specific purpose such as CO2 removal.

Adrian Nur presented his research work on the synthesis of nanosized hydrozyapatite (HA) by electrochemical method. HA is phosphate mineral encountered in bone and dental that make it biocompatible for use as bioimplant. There were two possible phase of phosphate formed using this method: HA and brushite. The initial phase after beginning the electrolysis was brushite and after that, it converted into HA. Aging the suspension after electrolysis also could convert brushite into HA.

Nazriati presented her work on the effect of Ni doping on the properties of silica aerogel produced from bagasse ash by ambient pressure drying. The presence of Ni seems to decrease the surface area of the silica aerogel. The Ni-doped silica aerogel will be tested for their capability to adsorb hydrogen. Previous studies showed that doping of Ni on MCM-41 enhanced the capacity of hydrogen storage.

Three master students presented their report the day before. They were Ni Made Intan Putri Suari, Vania Mitha Pratiwi and Zarra Miantina Putrie. Intan presented her work on electrodeposition of nanosized silica on steel for corrosion protection, Mitha on the electrochemical performance of Fe3O4/C composite as anode material for rechargable batteries and Zarra on sulfonate-grafted silica/chitosan membrane for proton exchange membrane.

membergns1013
Rizka, Ina, Tigor, Winny, Kiki, Eka, Supri, Sabrina, Andar, Wangling, Irul, Ima, Sri, Fanny, Dwi, Merry

Two weeks before, our bachelor students presented their poster paper. The topics are as the following:

  1. Wangling – Rizka: Fe3O4/C composite as anode material for rechargable batteries
  2. Ina -Tigor: Synthesis of MnO2 by electrolysis of KMnO4
  3. Andar – Supri: Silica/C composite from geothermal sludge
  4. Irul – Fanny: Electrophoretic deposition of Hydroxyapatite/SiO2 on titanium for dental implant
  5. Yuni – Merry: Preparation of sulfonate-grafted silica from sodium silicate as an acid catalyst
  6. Ima – Dwi: Grafting of amine on silica produced from bagasse ash for CO2 adsorbent
  7. Winny – Kiki: Thermal insulator from silica gel prepared by electrodeposition of silica sol from sodium silicate
  8. Shabrina – Eka: Hydrophobic coating of Cu by electrophoretic deposition of nanosilica for corrosion protection

Six titles receive fund from PKMP

Continuing the last year success by 5 titles, this year six titles proposed to the Directorate General of Higher Education (DGHE) of the Ministry of Education and Culture, Indonesia by our students are awarded fund through PKMP (Program Kreativitas Mahasiswa – Penelitian/Students Creativity Program – Research). The titles of research funded are

  1. Sintesa Komposit Fe3O4/C sebagai Bahan Anoda Pada Baterai Ion Lithium (Ahmad Ralibi Tigor et al.)
  2. Sintesa partikel silika berpori dengan penambahan gelatin sebagai template dalam spray dryer (Andar Kusnanto et al.)
  3. Pengaruh gugus amine yang dicangkokkan pada silika gel dari abu bagasse terhadap kemampuannya sebagai adsorben CO2 (Dyanros Rizkiyanto et al.)
  4. Pemanfaatan limbah padat pembangkit listrik panas bumi sebagai bahan anti jamur produk kemasan (Eka Setyowati et al.)
  5. Sintesa nanopartikel hydroxyapatite menggunakan metode elektrokimia sebagai bioimplan tulang dan gigi (Rizka Nursyamsiah et al.)
  6. Pelapisan baja dengan nanosilika secara elektroforesis untuk perlindungan terhadap korosi (Supriyono et al.)

labmember

Pilar elektrokimia modern: 1/4 pertama abad 19

Pada artikel sebelumnya telah diuraikan tentang jalinan lahirnya elektrokimia modern (lihat disini). Berikut ini akan diuraikan perkembangan dan penemu elektrokimia modern pada seperempat pertama abad ke-19.

Seperti telah diuraikan sebelumnya, kredit untuk peletakan tonggak elektrokimia modern diberikan kepada Alessandro Giuseppe Anastasio Volta (1745-1827). Ia adalah profesor filosofi alam pada Universitas Pavia. Pada tahun 1800an ia menunjukkan bahwa jaringan hewan tidak diperlukan untuk menghasilkan arus listrik. Ia beralasan bahwa kaki katak yang digunakan dalam percobaan Galvani hanya bertindak sebagai elektroskop dan mengusulkan bahwa sumber stimulasi yang sebenarnya adalah kontak antara logam tak sejenis. Ia menyebut listrik yang dihasilkan listrik logam. Ia menunjukkan, melalui tumpukan volta yang terdiri atas piringan logam tak sejenis yang dipasang selang seling, baterai elektrokimia pertama. Penemuan penting periode ini membentuk basis baterai modern dan asal muasal fenomena galvani lain yang meliputi korosi dan anoda dikorbankan. Ini juga menandai kali pertama dihasilkannya arus listrik kontinyu. Volta, yang kajiannya menolak secara efektif teori listrik hewan Galvani, memberi nama galvanisme. Napoleon Bonaparte menganugerahi Volta dengan gelar “Count of Lombardy”. Volta juga dicatat sebagai penemu dan isolasi metana. Alessandro Volta diabadikan dengan nama satuan listrik “volt”, sebuah nomenklatur yang mulai digunakan tahun 1881.

Volta menguraikan temuannya dalam surat tertanggal 20 Maret 1800 kepada Sir Joseph Banks (1743-1820), yang kemudian menjadi Presiden the Royal Society. Judul suratnya adalah “On the Electricity Excited by the Mere Contact of Conducting Substances of Different Kinds”. Banks menunjukkan surat tersebut kepada Anthony Carlisle (1768-1842), seorang ahli bedah London. Bersama dengan William Nicholson (1753-1815), seorang ahli kimia-insinyur, kawannya, Carlisle merangkai tumpukan volta. Dalam usahanya untuk menentukan muatan listrik pada pelat atas dan bawah dengan bantuan elektroskop, mereka meneteskan air pada piringan paling atas (untuk kontak yang lebih baik!), dan yang mengejutkan mereka, terbentuk gelembung gas yang dilbebaskan. Segera mereka menemukan bahwa terminal baterai yang dicelupkan dalam air menghasilkan hidrogen dan oksigen. Mereka telah menemukan elektrolisa atau reaksi kimia yang didorong oleh arus listrik.

vodabeamfa

Beberapa bulan kemudian, Juhann Wilhelm Ritter (1776-1810) memperbaiki percobaan Carlisle dan Nicholson dan menciptakan peralatan untuk mengumpulkan hidrogen dan oksigen secara terpisah. Berikutnya, ia juga menemukan proses elektroplating. Temuan Ritter mungkin lebih awal daripada Carlisle dan Nicholson namun tidak memungkinkan baginya untuk mempublikasikan hasilnya karena tugasnya sebagai apoteker. Pengamatan Ritter tentang potensial thermoelektrik (potensial listrik pada sambungan dua logam tak sejenis yang dijaga pada suhu yang berbeda) pada tahun 1801 juga mengantisipasi temuan thermoelektrik tahun 1821 oleh ahlli fisika Estonian-Jerman Thomas Johann Seebeck (1770-1831). Namun, Seebeck gagal mengenali bahwa arus listrik dihasilkan ketika sambungan dua logam dipanaskan. Ia menggunakan istilah arus thermomagnetik untuk menggambarkan temuannya. Efek Sebeck membentuk basis thermocouple, yang merupakan alat paling akurat untuk mengukur suhu. Fenomena yang berlawanan, efek Peltier, yang menghasilkan beda suhu ketika arus listrik dialirkan pada logam tak sejenis, diamati satu dekade kemudian. Percobaan Ritter tentang eksitasi listrik otot memasukkan dirinya sebagai subyek tegangan tinggi yang mungkin menuju pada kematiannya sendiri.

Pada periode waktu yang sama, ahli fisika dan kimia Inggris Henry Cavendish (1731-1810) melakukan percobaan kuantitatif yang terkenal pada komposisi air dan juga menghasilkan versi hukum Ohm untuk larutan elektrolit. Ia juga dikenal untuk percobaan Cavendish yang terkenal, pengukuran densitas bumi. Tidak nyaman dengan publisitas, Cavendish kurang dikenal sebagai orang yang berkaliber ilmiah. Beberapa temuannya tidak dipublikasi. Sebagai contoh, ia mengenali bahwa gaya antara pasangan muatan listrik berbanding terbalik dengan jarak, kredit yang diberikan kepada ahli fisika Perancis Coulomb. Paling tidak ada dua bangunan yang mengingatkan generasi sekarang akan Cavendish: lapangan di London, yang diberi nama dengan namanya dan Cavendish Royal Laboratory di Universitas Cambridge.

Teknik elektroplating diungkapkan oleh ahli kimia Italia Luigi Brunatelli (1759-1828) pada tahun 1805. Percobaannya pada pelapisan emas dilakukan dengan tumpukan volta sebagai sumber daya. Karena ditolak oleh Napoleon Bonaparte, Brugnatelli dipaksa untuk menjaga hasilnya dalam profil rendah. Sementara itu, William Hyde Wollaston (1766-1828) dan Smith Tennant (1761-1815), dalam usahanya menggunakan elektrokimia untuk memurnikan platina, berakhir dengan penemuan unsur lain: palladium dan rhodium (Wollaston) dan iridium dan omium (Tennant). Terinspirasi oleh kerja Ritter, Carlisle dan Nicholson, Sir Humphrey Davey (1778-1829) menggunakan elektrolisa untuk mengisolasi logam seperti sodium, potasium, kalum, magnesium dan lithium. Ia menyimpulkan bahwa listrik menyebabkan aksi kimia dan bahwa kombinasi kimia terjadi antar senyawa yang muatan listriknya berlawanan.

Rival Davey saat itu, Jon Jakob Berzelius (1779-1848) juga membuat kontribusi penting terhadap elektrokimia. Berzelius menemukan bahwa elektrolisa menghasilkan pembentukan unsur pada kutub sel, yang mengarahkan ia untuk mengusulkan bahwa atom adalah bermuatan listrik dan senyawa terbentuk oleh netralisasi muatan listrik. Ini adalah teori dualismenya, yang tidak berlaku untuk senyawa organik. Berzelius juga memantapkan hukum proporsi tertentu. Ia juga diberi kredit untuk penemuan beberapa unsur penting yang meliputi cerium, selenium dan thorium. Dialah yang menciptakan sistem logis simbol untuk unsur (H, C, Ca, Cl, O, dll.) Dengan kajian Davy dan Berzelius, kimia tidak pernah sama lagi.

Penemuan penting dilakukan secara bersamaan pada tahun 1820 oleh filosof alam Denmark Hans Christian Orsted (1777-1851). Ia mengamati pengaruh magnet terhadap arus listrik. Terinspirasi oleh Orsted, Andre-Marie Ampere (1775-1836) melakukan percobaan dan merumuskan temuan Orsted secara matematika. Kemudian muncul rumus yang menghubungkan tegangan, arus dan hambatan melalui hukum Ohm yang dirumuskan oleh Georg Ohm (1787-1854) pada tahun 1827. Awalnya temuan Ohm ditertawakan oleh koleganya. Namun, sebelum tahun 1833 pentingnya hukum dasar Ohm dalam analisa sirkuit listrik dikenali.

Michael Faraday (1791-1867) dipandang sebagai salah seorang ilmuwan terbesar dalam sejarah. Beberapa menjulukinya sebagai eksperimentalis terbesar yang pernah ada, khususnya karena percobaannya tentang litrik menemukan persamaan dalam teknologi sehari-hari. “Farad”, satuan kapasitansi, dan “tetapan Faraday”, dinamai dengan namanya. Ia menemukan dinamo, awal dari pembangkit listrik sekarang. Konsepnya tentang garis fluks yang muncul dari benda bermuatan listrik dan magnet membuka jalan untuk menggambarkan medan listrik dan magnet. Keduanya merupakan hal yang sangat penting untuk keberhasilan pengembangan alat elektromekanika yang mendominasi teknik dan industri untuk akhir abad ke-19. Ia juga menemukan “efek Faraday”, fenomena diamagntisme. Dalam penelitiannya tentang listrik statis, Faraday menunjukkan bahwa muatan listrik tinggal hanya pada bagian luar konduktor yang bermuatan listrik. Selain itu, muatan listrik bagian luar tidak memengaruhi apapun yang terkurung dalam konduktor, efek perisai yang sekarang kita gunakan dalam “sangkar Faraday”. Faraday juga melakukan banyak penelitian dalam kimia. Ia menemukan senyawa seperti benzena, gas cair seperti khlorin dan mengusulkan sistem bilangan oksidasi. Ia juga menemukan hukum elektrolisa dan mempopulerkan terminologi anoda, katoda, elektroda dan ion, istilah yang diciptakan oleh William Whewell (1794-1866). Ia menolak teori fluida tradisional tentang listrik dan mengusulkan bahwa listrik adalah bentuk gaya yang dialirkan dari partikel ke partikel dalam bahan.

Disadur dari:

Pillars of Modern Electrochemistry: A Brief History oleh A. K. Shukla & T. P. Kumar, 2008.

Pilar elektrokimia modern: Jalinan kelahiran

Pilar elektrokimia modern dipandang berasal dari tumpukan kerja percobaan yang dilakukan oleh Alessandro Volta pada tahun 1800. Meskipun jauh sebelum masa itu, berdasarkan bukti arkeologi, telah dikenal baterai primitif (disebut baterai Baghdad) yang digunakan untuk electroplating di Mesopotamia pada tahun 200 SM. Volta terinspirasi oleh percobaan kaki katak yang dilakukan oleh Galvani, yang meyimpulkan fenomena tersebut hanyalah fenomena biologi. Perkembangan elektrokimia semakin cepat dengan kontribusi dari John Daniell dan Michael Faraday. Dari awal yang sederhana, elektrokimia sekarang telah matang menjadi sebuah cabang ilmu multi disiplin.

Keunikan elektrokimia terletak pada fakta bahwa aplikasi potensial atau medan listrik dapat membantu mengatasi batasan kinetika pada suhu rendah. Selain itu, proses elektrokimia dapat diatur untuk memperoleh produk tertentu secara kimia. Reaksi elektrokimia juga sensitif terhadap karakteristik permukaan elektroda dan komposisi elektrolit, yang membuka jalan beberapa bidang analitis dan karakterisasi. Seperti banyak pemikir maju yang mengabdikan hidupnya agar hidup manusia lebih nyaman, halaman sejarah dipenuhi dengan nama, beberapa telah lama terlupakan, yang telah membuat elektrokimia seperti sekarang. Disini dicoba untuk memberikan sekilas pilar elektrokimia ini melalui kontribusinya. Pada bagian pertama tulisan ini akan dibahas jalinan kelahiran elektrokimia yang muncul dari temuan berbagai cabang ilmu, terutama yang berkaitan dengan ditemukannya listrik.

Listrik baru mulai dipahami pada abad ke-16. Ilmuwan Inggris William Gilbert (1544-1603), yang dikenal sebagai “bapak magnet” untuk penelitiannya pada magnet, adalah salah satu diantara peneliti pertama yang melakukan percobaan dengan listrik. Ia menemukan metoda untuk menghasilkan maupun memperkuat magnet. Generator listrik pertama dibangun oleh ahli fisika Jerman Otto von Guericke (1602-1686) pada tahun 1663. Alat tersebut menghasilkan listrik statis dengan menggosok bola sulfur besar dengan kain. Sebelum pertengahan tahun 1700, ahli kimia Perancis Charles Francois de Cisternay du Fay (1698-1739) menemukan dua tipe listrik statis. Ia menemukan bahwa muatan listrik sejenis saling tolak sedangkan yang tidak sejenis saling tarik. Selain itu, ia menyarankan bahwa listrik terdiri dari dua fluida: listrik positif dan listrik negatif. Teori dua fluida ini dibantah oleh Benjamin Franklin (1706-1790) pada akhir abad ke-16. Franklin mengusulkan teori satu fluida. Pada tahun 1781, Charles-Augustin de Coulomb (1736-1806) menawarkan hukum tarikan elektrostatis. Coulomb, satuan muatan listrik, dinamai dengan namanya untuk menghormatinya.

Pada saat itulah, ketika pemahaman tentang fenomena baru listrik tumbuh, elektrokimia memiliki jalinan kelahiran dengan ahli fisika Italia dan ahli anatomi Luigi Galvani (1737-1798) yang mengusulkan apa yang ia sebut “listrik hewan”. Galvani, pada tahun 1791, mengusulkan bahwa jaringan hewan mengandung gaya vital tak dikenal, yang mengaktifkan syaraf dan otot ketika disentuh dengan logam. Menurut Galvani, listrik hewan adalah bentuk baru listrik selain listrik alam yang dihasilkan oleh kilat (atau oleh belut listrik dan sinar torpedo) dan listrik statis buatan yang dihasilkan oleh gesekan. Gagasan fluida listrik hewan ditolak oleh Alessandro Volta, yang beralasan bahwa kaki katak merespons berbeda ketika disentuh dengan logam yang jenis dan komposisinya berbeda. Namun, Galvani tetap pada pendiriannya dan bahkan mendemonstrasikan aksi otot dengan dua potong bahan yang sama.

Gilbert-Guericke-Coulomb

Yang menarik, percobaan Galvani di Universitas Bologna tentang aksi fisiologi listrik tidak hanya melibatkan katak hidup tetapi juga kaki katak yang telah dilepaskan dari tubuhnya. Ia menunjukkan bahwa kontraksi otot pada katak dan hewan lain dapat dipicu oleh aliran listrik. Kejut kaki kata menandai fenomena percobaan yang kemudian dikenal sebagai bioelektrogenesis. Pada kenyataannya, percobaan Galvani tidak hanya membantu memantapkan basis untuk studi neurofisiologi biologi, tetapi juga menuju kepada perubahan konsep dengan memperkenalkan syaraf sebagai konduktor listrik daripada hanya sekedar pipa air, seperti yang dianut oleh sekolah Descartes. Nama Galvani kemudian dikaitkan dengan galvanisasi (teknik memasukkan kejutan listrik, meskipun istilah lain, faradisme, juga digunakan untuk teknik tersebut). Kata galvanizing sekarang digunakan untuk perlakuan perlindungan baja dengan seng. Galvani juga diabadikan dalam kata bahasa Inggris “galvanize”, yang berarti mengaduk, aksi tiba-tiba.

Disadur dari:

Pillars of Modern Electrochemistry: A Brief History oleh A. K. Shukla & T. P. Kumar, 2008.